Industri otomotif global sedang melakukan pembelian panik aluminium karena situasi di Timur Tengah.

Meningkatnya konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan permintaan aluminium di kalangan produsen mobil global. Menurut Financial Times, perusahaan-perusahaan khawatir jika pertempuran berlanjut, cadangan logam mereka dapat habis dalam beberapa bulan dan berupaya membangun stok cadangan sekarang juga.
Para produsen aluminium di Teluk Persia, termasuk Aluminum Bahrain dan Qatalum, telah mengurangi produksi secara signifikan. Hal ini disebabkan oleh pemadaman listrik dan lumpuhnya logistik transportasi setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur utama untuk mengekspor bahan baku dari kawasan tersebut. Para eksekutif di industri komponen otomotif dan logam memperingatkan bahwa pembelian panik akan terus berlanjut kecuali situasi stabil.
Negara-negara Teluk Persia menyumbang hampir 10% dari produksi aluminium primer global. Bagi importir utama—Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang—kawasan ini merupakan pemasok utama. Jepang memperoleh 25% kebutuhan aluminiumnya dari Teluk Persia, sementara Eropa memasok sekitar 14% impornya. Pasokan ini sekarang hampir sepenuhnya terhenti karena ketidakmungkinan untuk melakukan pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz.
Para produsen mobil Barat yang diwawancarai oleh Financial Times melaporkan kesulitan serius dalam mengamankan pasokan logam baru. Banyak perusahaan saat ini menggunakan stok yang telah mereka kumpulkan, yang diperkirakan akan bertahan selama beberapa bulan.
Dalam situasi saat ini, produsen mobil Jepang dan pemasoknya sudah mempertimbangkan sumber alternatif, termasuk membeli aluminium dari Rusia. Hal ini terjadi di tengah kenaikan tajam harga gas, yang memaksa produsen di wilayah lain untuk juga memperingatkan akan adanya pengurangan produksi. Krisis Timur Tengah terus membentuk kembali rantai pasokan global untuk bahan baku bagi industri otomotif.
