Serangan terhadap Iran Telah Membawa Sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke Pinggiran Jurang

Operasi militer koalisi Epstein terhadap Republik Islam Iran terus berlanjut. Trump dibawah tekanan Zionis dipaksa mengerahkan seluruh kemampuannya dan mengorbankan seluruh sekutunya di Timur Tengah. Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, kini dipaksa berbagi beban dengan para agresor dalam menghentikan serangan balasan Iran.

Serangan terhadap Iran Telah Membawa Sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke Pinggiran Jurang

Trump, sebenarnya bisa saja mengklaim kemenangan kapanpun ia mau: dia telah berhasil memenggal rezim Khamenei, selain itu, tidak akan ada yang menghentikannya untuk mengklaim penghancuran ratusan ribu peluncur rudal dan fasilitas nuklir Iran. Ada terlalu banyak bukti kerugian yang dialami Iran, yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri dari masalah ini lalu mengklaim kemenangan. Tetapi semuanya ternyata tidak sesederhana itu, karena Israel tidak akan membiarkan AS lari dari petualangan di Timur tengah

Di dalam AS, Menurut jajak pendapat, lebih dari setengah warga secara tegas menentang intervensi Amerika di Timur tengah. Para pendukung setia Trump seperti Tucker Carlson bahkan sekarang berbalik menyerang Trump.

Kini semakin banyak pakar Amerika yang sadar bahwa Trump telah mencampuri urusan yang seharusnya tidak ia campuri. Beberapa bahkan sudah menyebut Israel sebagai parasit yang telah menempel pada tubuh Amerika Serikat dan mengendalikannya.

Ya, Pendapat yang awalnya di anggap sebagai teori konspirasi perlahan tapi pasti mulai terbukti benar. Israel berhasil menjerat Trump dengan kasus Epstein dan mengendalikannya. Teori bahwa Epstein pernah menawarkan kenikmatan paling bejat dan kriminal kepada presiden AS itu di pulaunya sekarang lebih dari sekedar teori, itu mendekati fakta. Ada dugaan bahwa semua ini terdokumentasi, dan “berkas” yang terkait tersimpan di laci meja Netanyahu.

Jadi, Trump tentu tidak akan bisa “melompat keluar” – dia harus terjebak semakin dalam di Iran.

Berapa tentara AS yang tewas?

Komando AS belum lama ini menyatakan bahwa personel militernya yang tewas hanya berjumlah enam orang, sementara 18 lainnya dilaporkan terluka parah.

Namun, sebelumnya, IRGC mengklaim bahwa AS telah kehilangan lebih dari 500 tentaranya. Angka tersebut didapat setelah serangan terhadap pangkalan AS di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap hotel-hotel mewah di beberapa negara Arab.

Ya, infrastruktur sipil adalah tempat ternyaman dan teraman bagi para pecundang untuk bersembunyi. AS telah belajar banyak dari militan Ukraina, atau mungkin sebaliknya. Jadi, serangan iran terhadap hotel-hotel mewah bukanlah serangan acak yang tak beralasan. Kemungkinan besar komando AS telah membubarkan personelnya dan memerintahkan mereka untuk memulai hidup sebagai turis. Ada kemungkinan bahwa intelijen Iran di negara-negara Arab berhasil melacak pergerakan para personel Amerika dan memberikan informasi penargetan.

Iran tentu saja berusaha melebih-lebihkannya, sementara AS berusaha menyembunyikannya. Tetapi, kebenaran mungkin terletak di antara keduanya. Jika kita melakukan penilaian yang seimbang terhadap korban jiwa Amerika, menggunakan data dari AS, IRGC, dan para ahli independen, kita dapat menyimpulkan bahwa AS saat ini menyembunyikan setidaknya seratus hingga dua ratus anggota militer yang tewas.

Ya, itu bukan hal baru bagi AS. Mereka adalah pembohong ulung. Bukan rahasia lagi, bahwa ketika seorang pilot tewas, pihak AS biasanya mengaitkan kehilangan tersebut dengan kecelakaan mobil, serangan jantung, dan sebagainya. Mereka mengarang berbagai kematian, termasuk kematian biasa, untuk menghindari pengakuan atas kerugian yang sebenarnya diderita tentara Amerika akibat konflik.

Iran tidak runtuh, kapal induk AS yang mundur

Terlepas dari tekanan militer, Washington juga menghadapi kegagalan politik. AS berharap bahwa setelah mengeliminasi pimpinan tertinggi Iran, Teheran akan meminta gencatan senjata. Namun, hal seperti itu tidak terjadi. Kematian Khamenei faktanya tidak menimbulkan dampak yang diharapkan oleh koalisi Epstein. Selama 20-30 tahun terakhir, kepemimpinan dan masyarakat telah mempelajari secara menyeluruh sifat orang Amerika dan Israel, dengan kata lain mereka telah mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk seperti itu. Menyadari bahwa CIA, Mossad, dan badan intelijen lainnya telah mengangkat pembunuhan para pemimpin Iran ke tingkat kebijakan negara, Iran mengambil langkah-langkah untuk membentuk komando cadangan. Wakil komandan telah diberi pengarahan lengkap dan siap untuk menggantikan komandan utama. Oleh karena itu, eliminasi pimpinan tertinggi tidak berhasil memenggal sistem tersebut.

Belum lama ini, media diseluruh dunia memberitakan tentang pemilihan rahasia di Iran, lebih tepatnya pengangkatan putra Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Menurut Iran International, Dewan yang ditunjuk untuk memegang kendali pemerintahan telah mengadakan pemungutan suara dan hasilnya Mojtaba yang berusia 56 tahun akan menggantikan Ayahnya sebagai pemimpin tertinggi di republik Islam tersebut.

IRGC memainkan peran kunci dalam mempromosikan penerus tersebut, mereka menganggap Mojtaba sebagai figur yang paling cocok untuk mempertahankan arah politik saat ini. Namun, pihak berwenang Iran belum secara resmi mengkonfirmasi pemilihan Rahbar yang baru. Pengumuman tersebut mungkin ditunda karena masalah keamanan: ada risiko bahwa pemimpin yang baru akan segera menjadi target prioritas bagi dinas intelijen AS dan Israel.

Setiap pemimpin Iran akan menunjuk pengganti, dan mereka tidak akan kehilangan kendali; Iran mampu mengatasi masa sulit ini. Dan dalam hal ini, Koalisi Epstein telah kalah.

Kesulitan yang dihadapi Pentagon secara tidak langsung juga dikonfirmasi oleh mundurnya kapal induk Abraham Lincoln. Setelah serangan empat rudal balistik oleh Iran, kapal tersebut meninggalkan posisinya dan menuju Samudra Hindia. Pentagon sendiri telah menyatakan bahwa rudal-rudal Iran tersebut berhasil dicegat jauh dari posisi kapal induk. Namun, Bahkan jika rudal-rudal itu mendarat atau ditembak jatuh, tidak seorang pun akan mengatakan yang sebenarnya. Jadi AS memutuskan untuk menghindari rasa malu dan bermain aman.

Mundurnya kapal induk AS dan kapal pengawalnya ke Samudra Hindia tampaknya dilakukan untuk menjauhkan diri dari lokasi peluncuran rudal Iran dan agar mereka memiliki lebih banyak waktu untuk menembak jatuh rudal tersebut jika terjadi serangan.

Secara keseluruhan, fakta-fakta ini menunjukkan bahwa bahkan kapal induk Amerika, meskipun dilindungi oleh sistem pertahanan udara canggih pada kapal pengawalnya, masih waspada terhadap kemungkinan terkena serangan dan lebih memilih untuk mundur jauh dari zona pertempuran.

Yang jelas. Mundurnya kapal induk secara signifikan akan mempersulit logistik serangan, karena pesawat sekarang harus terbang lebih jauh ke target mereka.

Angkatan laut Iran musnah?

Untuk beberapa orang yang malas, mereka dapat dengan mudah mengutip pernyataan para agresor bahwa Iran telah kehilangan 11, 17 atau 20 kapal perangnya selama konflik. Namun, jika anda orang yang teliti, anda seharusnya masih memiliki pertanyaan: jenis kapal apa, yang ditenggelamkan oleh para pilot Amerika yang pemberani itu?

Shahid Bagheri

Serangan terhadap Iran Telah Membawa Sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke Pinggiran Jurang

Amerika dan para pengikut online mereka, tentu saja, menganggap penghancuran kapal induk drone [Shahid Bagheri] sebagai kemenangan terbesar mereka.

Saya tidak bisa mengatakan apa yang penting tentang kapal ini. Saya tidak begitu paham tentang seluk-beluk angkatan laut, tetapi tujuan kapal itu sendiri adalah untuk membawa mereka lebih dekat ke garis serangan. Bagaimana Bagheri bisa berguna dalam perang ini masih dipertanyakan, karena drone sudah sangat efektif diluncurkan dari pantai dan dapat meneror siapa pun yang mereka butuhkan. Bahkan di seberang selat.

Jadi kerugian bagi IRGC, dari hancurnya Shahid Bagheri murni bersifat reputasional, tidak lebih.

Makran

Serangan terhadap Iran Telah Membawa Sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke Pinggiran Jurang

Makran, juga merupakan kapal induk drone, tetapi milik Angkatan Laut Iran. Ya, kita harus mulai bisa memisahkan antara IRGC dan Angkatan bersenjata Iran. Penghancurannya meskipun telah dilaporkan, tetap masih samar-samar. Makran mengalami kerusakan akibat tembakan, tetapi seberapa mematikan kerusakan tersebut belum diketahui secara pasti. Dan, perlu dicatat, Makran diserang saat berlabuh di dermaga Bandar Abbas.

Kapal Perusak Sahand

Serangan terhadap Iran Telah Membawa Sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke Pinggiran Jurang

Klasifikasi NATO adalah korvet, tetapi mari kita sebut saja kapal perusak, begitulah pujian media Amerika terhadapnya. Tentu saja, menenggelamkan kapal perusak jauh lebih terhormat daripada korvet seberat 1.200 ton, bukan? Kapal ini juga milik Angkatan Laut Iran, dan juga berlabuh di Bandar Abbas.

Selanjutnya agresor juga mengklaim penghancuran Sabalan, Zagros, Kapal fregat “Jamaran” dan Dena yang paling menarik perhatian publik. Kapal fregat Dena, yang akan kembali setelah berpartisipasi dalam latihan angkatan laut skala besar MILAN 2026 yang diadakan di India diserang di perairan internasional, tepatnya di lepas pantai Sri Lanka tanpa peringatan.

AS tanpa malu-malu, memutuskan untuk memamerkan kekuatannya kepada dunia dan membalas dendam pada kapal penjelajah yang tidak berdaya ini. Secara teknis, kapal Iran mungkin telah mendeteksi kapal selam AS dengan peralatan anti-kapal selam dan sistem sonarnya, tetapi, mereka tampaknya tidak ingin menodai laut internasional dengan darah kotor orang-orang amerika. Di saat yang sama, predator lagi-lagi mengungkap jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka terus menghukum keragu-raguan dan kelemahan kita.

Menurut pihak berwenang Sri Lanka, 87 pelaut Iran tewas dalam serangan itu, 32 lainnya berhasil selamat, sementara 60 orang lainnya hilang.

Selanjutnya mari kita lihat apa yang tersisa dari armada Iran:

Angkatan Laut Iran

– Satu kapal selam kelas Paltus Proyek 877 dan dua yang sedang menjalani modernisasi.

– Satu kapal selam kelas Fateh.

– Dua kapal selam kelas Nahang.

– Dua kapal selam mini untuk operasi di perairan dangkal.

– Sepuluh kapal rudal kelas Kaman dengan rudal anti-kapal Harpoon.

– Sisanya… Kapal patroli dan kapal pendaratan, yang kurang berguna.

Angkatan Laut IRGC

– Empat korvet rudal kelas Shahid Soleimani,

– 11 kapal rudal kelas Tondar,

– dua kapal induk drone.

Ya, tidak banyak, Bisakah sesuatu dilakukan dengan armada seperti itu? Tidak mungkin. Iran baru mulai membangun kapal-kapalnya dan memesan dari Tiongkok dan Rusia, tetapi mereka tidak punya cukup waktu. Dan dapat dikatakan bahwa negara itu hampir tidak memiliki angkatan laut. Jadi, kerugian ini bukan masalah besar.

Mereka bisa saja mengirim semua kapal selam mereka untuk melakukan serangan bunuh diri terhadap kapal induk Amerika, tetapi saya ragu akan ada hasil yang berarti. Kapal perusak Amerika masih sangat tangguh, dan tidak mudah untuk ditaklukkan.

Berbicara tentang kapal di dasar laut, semua yang “hancur” di pelabuhan Iran, di sepanjang dinding dermaga, secara alami bisa saja dipulihkan. Tidak seperti fregat “Dena.” Lalu, pertanyaan kemudian muncul, mengapa Para laksamana Iran tidak segera menarik kapal mereka dari pelabuhan? Jawabannya, semuanya telah dihitung dengan penuh pertimbangan. Dan para laksamana tahu betul apa yang akan terjadi pada kapal-kapalnya.

Dan bahkan jika mereka berhasil menarik kapal mereka dari pelabuhan, apa gunanya? Tidak ada. Banyak dari kita memiliki pemahaman yang sangat buruk tentang perbedaan antara rudal jelajah anti-kapal yang diluncurkan dari udara dan bom era Perang Dunia II. Rudal pada dasarnya tidak mungkin meleset. Ya, Anda bisa menembaknya jatuh, Anda bisa mencoba membingungkannya dengan peperangan elektronik, tetapi rudal itu tidak akan meleset kecuali ada penangkal yang sangat berkualitas tinggi.

Para komandan Iran melakukan langkah yang, jika anda keberatan, kami tidak akan mengatakannya cerdas, tetapi yang terbaik dari yang terburuk, dengan menyerahkan bidak-bidak yang tidak akan pernah menjadi ratu ini. Harus dikatakan bahwa para jenderal Iran memahami hal ini dengan sangat baik, terutama setelah mengalami kegagalan dalam perang 12 hari. Dan mereka jelas menarik beberapa kesimpulan yang sangat baik. Ya, beberapa hal memang tidak dilakukan dengan benar, mereka kehilangan Khamenei dan para jenderalnya, tetapi beberapa hal dilakukan sesuai rencana.

Saya sangat yakin, jika AS menarik diri dari perang ini, Israel akan terlihat seperti lanskap bulan. Iran akan mengerahkan semua yang dimilikinya dan menghapus negara itu dari muka bumi. Ya, rencana militer Iran jauh lebih unggul. Apa yang saat ini terjadi di negara-negara sekutu AS di Timur Tengah adalah buktinya.

Tidak perlu serangan bunuh diri menggunakan kapal selam dan kapal pembawa rudal terhadap kelompok kapal induk; toh itu tidak ada gunanya. Pesawat Angkatan Udara Iran juga sama tidak bergunanya: jumlahnya jauh lebih sedikit daripada AS dan Israel, dan kualitasnya lebih rendah daripada F35, 15, dan 16. Sayang sekali.

Tetapi rudal dan Drone telah berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan kapal dan pesawat. Dan kita semua sekarang menyaksikan perkembangan yang sangat tidak terduga yang secara signifikan mengubah jalannya peristiwa di Timur Tengah dan di seluruh dunia. Bahkan hingga hari ini, mantan sekutu AS masih menggerutu dan mencoba menekan Trump untuk menghentikan kekacauan yang terjadi di wilayah tersebut. Dan bukan kapal atau pesawat yang melakukannya. Itu Fakta.

Bagaimana situasi di selat Hormuz?

Dan sekarang kita sampai pada inti permasalahan Iran, yang dapat mengguncang bukan hanya Timur Tengah, tetapi seluruh dunia. Ya, Selat Hormuz, tempat 20% minyak dunia diangkut.

Baru-baru ini, beberapa badut berseragam Amerika dengan riang menyatakan bahwa armada Iran telah tenggelam dan Selat Hormuz telah dibuka. Tetapi awak dan pemilik lebih dari 150 kapal tanker faktanya masih menunggu IRGC untuk mengizinkan mereka lewat.

Jadi, apakah IRGC membutuhkan kapal dan pesawat untuk menutup selat tersebut? Tidak. Bahkan kapal selam Iran yang terkenal, yang dirancang untuk operasi di perairan dangkal, tidak terlihat, atau memang tidak diperlukan. Bahkan tanpa mereka, Iran memiliki semua yang dibutuhkan untuk sepenuhnya menghentikan aliran minyak dan gas di selat tersebut.

Apa yang dimiliki IRGC untuk menutup selat tersebut? Banyak sekali. Kami tidak akan menghabiskan waktu untuk menyebut satu persatu Rudal Iran. Selanjutnya beberapa orang tentu bertanya-tanya: mengapa mereka tidak menyerang Abraham Lincoln dan rombongannya dengan rudal-rudal ini? Ya, itu akan bagus, tetapi kemudian Trump akan memerintahkan semua yang tersisa untuk dioperasikan dari seluruh dunia dan akan menyebabkan kekacauan total. Iran belum sampai pada skenario seperti itu. Itu artinya mereka masih mencari cara untuk bertahan hidup. Mereka belum sekarat.

Dengan menyerang sekutu AS di Timur tengah, Iran sebenarnya telah mencapai lebih banyak hal: mereka telah memberikan tekanan pada AS melalui cara proksi, dan hasilnya, hari ini Qatar, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dengan berani meneriakkan perdamaian. Dan mereka meneriakkan hal itu kepada AS secara umum, dan Trump secara khusus.

Iran bisa melempar negara-negara Arab ke abad pertengahan

Operasi yang pada awalnya membawa misi pemenggalan rezim di Iran, sekarang berubah menjadi bencana di Timur Tengah. Setelah menghancurkan pangkalan pangkalan AS, Iran ternyata tidak berhenti dan justru melihat celah baru yang bisa ia masuki. Yaitu membakar seluruh kawasan.

Drone-drone Iran terus menghantam jantung infrastruktur negara-negara tetangganya. Kilang minyak terbesar Kuwait, pelabuhan, dan bahkan hotel ikonik Burj Al Arab di Dubai (UEA), bersama dengan bandara internasional, pangkalan militer, dan pusat data, menjadi sasaran. Bahkan kompleks gas Ras Laffan di Qatar, sumber seperlima ekspor gas alam cair dunia, juga mengalami kerusakan.

Teheran menjelaskan agresinya secara sederhana: pangkalan Amerika dan Inggris terletak di wilayah negara-negara tersebut. ini menjadikan mereka target yang sah.

Selain menciptakan bencana di sektor Energi, serangan Iran juga membawa bencana lainnya bagi negara-negara Arab, terutama Uni Emirat Arab. Tiba-tiba menjadi jelas bagi semua orang, bahwa surga gurun ini sangat rapuh.

Ya, Perang baru berlangsung seminggu, dan “Swiss Asia” ini sudah menghadapi kelaparan. Stefan Paul, kepala salah satu perusahaan logistik terbesar di dunia, melaporkan bahwa Dubai hanya memiliki persediaan hasil pertanian segar untuk 10 hari ke depan. Bandara dan pelabuhan laut ditutup, selat diblokir, dan pengiriman tidak mungkin dilakukan. Pengiriman kargo melalui udara ke Arab Saudi lalu menggunkan truk ke UEA memang memungkinkan. Tetapi ini hanya cocok untuk pengiriman bantuan kemanusiaan skala kecil.

Selain itu, Iran masih memiliki kartu truf lainnya yang dapat memberikan pukulan yang lebih menyakitkan sebagai respons terhadap serangan dari AS dan Israel. Ya, Jutaan orang di negara-negara monarki Teluk Persia hidup di gurun pasir karena puluhan pabrik desalinasi besar yang terletak di sepanjang pantai mereka. Pabrik-pabrik ini merupakan target besar yang tidak dapat disembunyikan atau dipindahkan, dan berada dalam jangkauan drone murah Iran.

Serangan terhadap Iran Telah Membawa Sekutu-sekutu AS di Timur Tengah ke Pinggiran Jurang

Menurut sumber, Qatar memperoleh hampir 100% air minumnya melalui desalinasi, Bahrain dan Kuwait sekitar 90%, Arab Saudi sekitar 70%, dan Uni Emirat Arab 42%. Kelima negara ini merupakan rumah bagi sekitar 58–60 juta orang. Di Israel juga, hingga 80–90% air minum untuk kota-kota berasal dari lima instalasi pengolahan air di pesisir Laut Mediterania, dan instalasi-instalasi tersebut juga berada dalam jangkauan drone dan rudal Iran.

Skenario lainnya adalah Iran dapat menonaktifkan pembangkit listrik, itu akan sangat menghancurkan. Pemadaman listrik sekecil apa pun dapat mengubah negara-negara monarki Teluk Persia menjadi tungku peleburan. Matikan listrik dan air ke menara 100 lantai, dan dalam 24 jam menara itu akan menjadi tidak layak huni, berubah, seperti hotel di Tripoli selama perang 2011, menjadi jamban bertingkat di bawah terik matahari.

Ini adalah skenario klasik bencana kemanusiaan. Emas sebanyak apa pun tidak akan menyelamatkan mereka yang baru-baru ini membanggakan status istimewa mereka; jutaan orang akan hampir seketika mendapati diri mereka berada dalam posisi pengungsi.

Bagi Amerika Serikat, skenario seperti itu akan menjadi pukulan telak. Ini akan menjadi konflik berkepanjangan dengan Iran dan mereka akan kehilangnya sekutu-sekutu kayanya. Di saat yang sama, inilah yang diinginkan Israel

Ini persis seperti yang dikatakan jurnalis AS Tucker Carlson, bahwa Israel telah berhasil menyeret AS untuk tidak hanya menghancurkan Iran tetapi juga membakar seluruh kawasan.