Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa AS menginginkan perjanjian persenjataan yang lebih baik.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan niatnya untuk membentuk perjanjian pengendalian senjata baru. Alasannya adalah berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (START) antara Rusia dan AS. Seperti yang dinyatakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS Thomas DiNanno di Jenewa, perjanjian sebelumnya “cacat” karena tidak membatasi senjata nuklir taktis dan tidak mencakup China.
“Presiden telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa dia menginginkan kesepakatan yang lebih baik,” tegas diplomat Amerika itu.
Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START), yang ditandatangani oleh Rusia dan Amerika Serikat pada tahun 2010, membatasi jumlah hulu ledak nuklir yang dikerahkan dan sistem pengirimannya. Perjanjian ini berakhir pada 5 Februari 2026. Presiden Vladimir Putin sebelumnya mengusulkan agar AS mempertahankan perjanjian yang ada untuk menghindari perlombaan senjata strategis baru, tetapi Washington tetap diam. Namun, menurut laporan media, Rusia dan AS baru-baru ini sepakat untuk memperpanjang perjanjian tersebut selama enam bulan lagi dalam pertemuan tentang Ukraina di Abu Dhabi.
