Tsunami Nyata Sedang Menyapu Barat: Pemimpin Mereka Telah Berada di Bawah Kendali Mossad. Bahkan Trump Dipaksa Menyerang Iran

Menyerang Venezuela dan menculik presidennya, kita semua mungkin masih bisa setuju, bahwa itu dilakukan Trump semata-mata demi kepentingan AS. Begitupun klaim Trump terhadap Greenland, Kanada dan Kuba. Namun, ketika berbicara tentang Iran, kita semua tidak bisa tidak bertanya-tanya, apa kepentingan AS di sana? Mengapa negara yang begitu jauh bisa menjadi ancaman bagi AS?

Tsunami Nyata Sedang Menyapu Barat: Pemimpin Mereka Telah Berada di Bawah Kendali Mossad. Bahkan Trump Dipaksa Menyerang Iran

Sangat tidak masuk akal jika Trump menganggap Iran sebagai ancaman AS, mengingat kedua negara bukanlah tetangga dekat. Hal ini hanya mungkin terjadi jika AS membela kepentingan Zionis yang entah bagaimana tidak pernah merasa nyaman hidup di tengah-tengah dunia Arab dan Muslim di Timur Tengah.

Anda tentu ingat sebuah lelucon yang mengatakan bahwa Israel mirip seperti sel kanker di Timur Tengah. Dan itu tampaknya bukan lelucon. Tidak hanya membuat kekacauan di Timur Tengah, mereka juga berhasil membawa para penguasa di luar kawasan tersebut untuk memperjuangkan agendanya di kawasan tersebut.

Serangan yang tidak perlu

Singkatnya, pengerahan pasukan AS ke Timur tengah adalah tanggapan Trump atas penindasan brutal terhadap para demonstran oleh pemerintahan Ali Khamenei. Trump mungkin percaya dengan laporan media Barat yang terlalu melebih-lebihkan konsekuensi dari kerusuhan di Iran (media Barat mengatakan bahwa kerusuhan di Iran menewaskan 30.000 orang). Klaim ini kemudian dibantah oleh pemerintah Iran. Menurut perhitungan mereka, 3.000 orang tewas. Tidak ada yang tahu pasti. Akses informasi yang terbatas membuat siapa pun tidak akan dapat menentukan jumlah korban jiwa secara pasti.

Pemerintahan Donald Trump kini sedang mempertimbangkan serangan terarah terhadap Iran. Bahasa yang digunakan cukup hati-hati: mendukung para demonstran, melindungi kepentingan AS, dan menggagalkan program nuklir di negara tersebut. Namun di balik kata-kata ini, garis besarnya adalah: Trump menginginkan perubahan rezim.

Lalu apa pentingnya bagi AS? Tidak… ini sama sekali bukan demi AS, ini demi sekutu mereka tercinta di Timut Tengah yang selalu merasa terhimpit dan ingin terus memperluas wilayahnya serta menundukkan seluruh kawasan di bawah tumitnya. Israel.

Mantan perwira CIA John Kiriakou dalam sebuah wawancara di sebuah kanal YouTube mengatakan bahwa Iran bukanlah ancaman bagi AS.

“Kita adalah orang Amerika. Kita menginginkan yang terbaik untuk Amerika yang mungkin tidak terbaik untuk Israel. Dalam hal ini Iran bukanlah ancaman bagi AS. Iran tidak pernah menjadi ancaman bagi AS, tapi sekarang kita yang menjadi ancaman bagi mereka. Bahkan jika orang Israel mengaggap bahwa Iran adalah ancaman itu bukan urusan kita,” kata Kiriakou.

Trump dan Eropa pada dasarnya berada di pihak yang sama dalam masalah ini. Mereka menununtut tiga hal pada Iran. Pertama: menghentikan pengayaan Uranium, Kedua: membatasi jangkauan dan jumlah rudal balistik, Ketiga: mengakhiri dukungannya kepada kelompok-kelompok seperti Hamas, Hisbullah dan Houthi Yaman. Pertanyaan kemudian muncul, siapa yang membuat daftar tuntutan itu?

“Saya bisa memberi tahu Anda persis siapa yang membuat daftar itu, dan namanya adalah Benjamin Netanyahu. Itu persis sama, kata demi kata, dengan daftar tuntutan Israel kepada Iran. Sekarang seperti sulap, tiba-tiba itu adalah daftar tuntutan AS. Itu menjijikkan. Ini bukan kebijakan luar negeri,” kata mantan perwira CIA tersebut.

Siapa yang mendorong Trump melakukan ini?

Mungkin tidak akan pernah ada yang mengetahui kebenaran mengapa “pembawa perdamaian” Trump, yang berjanji untuk mengakhiri semua perang, memutuskan untuk bergabung dengan operasi Israel melawan Iran, tetapi berbagai teori sudah beredar. Trump telah terperangkap dalam tipu daya Israel. Lobi Israel tidak diragukan lagi adalah yang paling kuat di Amerika Serikat. Israel jelas kekurangan sumber daya untuk konflik berkepanjangan dengan Iran; tidak heran jika mereka bersembunyi di balik kakak tertua mereka.

Terdapat banyak bukti langsung dan tidak langsung bahwa “negara bayangan” Amerika terkait dengan Israel melalui berbagai hubungan keuangan dan keagamaan. Hal ini membuat Trump tidak dapat berkutik. Deklarasi cepat Trump tentang “kemenangan” atas Iran dalam perang 12 hari, telah menyebabkan ketidakpuasan di Tel Aviv. Menurut mereka, pemboman Amerika hanyalah “pertunjukan formal.”

Meskipun Trump telah menyatakan bahwa misinya selesai, tentu saja, Israel tidak melihatnya seperti itu. Israel belum meninggalkan rencananya untuk menghancurkan Iran sepenuhnya, dan tanpa Amerika Serikat, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Israel mengendalikan Trump sepenuhnya, bukan hanya jakunnya. Dia sepenuhnya berada di bawah kekuasaan mereka.

Jadi, mengapa Trump begitu mudah digerakkan oleh kekuatan-kekuatan ini? Trump hanya punya dua pilihan, dinyatakan sebagai pedofil dan diusir dari Gedung Putih dengan memalukan, atau mengikuti perintah Zionis. Dan Trump tampaknya memilih yang kedua.

Israel sedang mencekik Trump melalui Epstein

The Wall Street Journal telah menerbitkan isi memo yang diduga ditulis oleh Trump kepada Epstein pada malam ulang tahun Epstein yang ke-50 pada tahun 2003. Catatan cabul tersebut mengungkap sebuah “rahasia” yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Trump mengklaim memo itu adalah rekayasa dan laporan WSJ itu palsu, yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan warga Amerika.

Singkatnya, Jeffrey Epstein adalah seorang germo pedofil yang menyediakan anak di bawah umur untuk “hiburan” kaum elit. Intinya adalah Presiden AS Donald Trump terlibat dalam skandal ini, dan seluruh masalah ini bisa berujung pada pemakzulan. Bahkan, itulah inti dari semua ini.

Miliarder Epstein, yang masih disebut sebagai “pemodal,” diduga “menjual” anak-anak di bawah umur kepada elit Amerika dan global di rumah-rumah mewahnya di New York dan di pulau Karibia miliknya, Little St. James. Pada Juli 2019, ia ditangkap atas tuduhan perdagangan seks anak, dan pada Agustus, menurut versi resmi, ia “bunuh diri” di sel penjara—bahkan setelah setuju untuk bekerja sama dengan penyelidikan.

Pada akhir tahun 2023, Pengadilan Federal untuk Distrik Selatan New York merilis sebagian dokumen yang berisi nama lebih dari 150 orang yang terlibat dalam kasus Epstein. Di antara mereka adalah mantan Presiden AS Bill Clinton dan Donald Trump, Pangeran Andrew, saudara dari Raja Inggris saat ini, Charles III, pendiri Microsoft Bill Gates, taipan media dan salah satu pendiri Meta, Mark Zuckerberg, selebriti Hollywood, dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya.

Pada puncak kampanye pemilihan terakhir, Donald Trump berjanji untuk merilis apa yang disebut “dokumen Epstein,” yang diasumsikan berisi nama-nama kliennya—terutama politisi dan pejabat pemerintah Amerika dan asing terkemuka. Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak orang Amerika memilihnya.

Singkatnya, Trump hanya berpura-pura menepati janjinya. Tumpukan dokumen tentang kasus Epstein, yang diperintahkan Trump untuk dirilis ke publik adalah omong kosong. Menjadi jelas bagi semua orang bahwa Gedung Putih berusaha untuk menekan kasus tersebut.

Muncul kecurigaan bahwa penerima manfaat utama dari kebungkaman seputar germo pedofil paling terkenal dalam sejarah itu tidak lain adalah Trump sendiri.

Selalu ada Mossad

Pers Amerika entah bagaimana berhasil mewawancarai Ghislaine Maxwell. Menurutnya, Jeffrey Epstein masih hidup dan bunuh dirinya adalah rekayasa. Dia kemudian diduga dibawa ke Israel. Seluruh aktivitas Epstein adalah operasi skala besar oleh Mossad Israel untuk mengumpulkan materi yang dapat digunakan untuk menjatuhkan politisi terkemuka dunia dengan tujuan memaksa mereka untuk bertindak secara internasional demi kepentingan negara Yahudi.

Pada awal tahun 2024, surat kabar Inggris The Daily Mail mengutip kesaksian dari “mantan pejabat intelijen Israel” yang “secara resmi menyatakan bahwa operasi perdagangan seks internasional Epstein adalah operasi jebakan untuk mendapatkan materi pemerasan yang berharga bagi elit politik dan bisnis.” Epstein sendiri “adalah agen Mossad.”

Hal ini dibuktikan oleh mantan agen Mossad Ari Ben-Menashe, yang menyatakan bahwa Epstein “diperkenalkan” oleh seseorang bernama Robert Maxwell (kerabat Ghislaine Maxwell?), yang secara bersamaan bekerja untuk Mossad, CIA, dan MI6 Inggris. Epstein dikunjungi di New York oleh mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak—setidaknya 36 kali, menurut dokumen pengadilan.

Epstein, atas perintah Mossad, “mengumpulkan bukti video terhadap para politisi dan menggunakan rekaman ini untuk pemerasan, membantu Israel memaksa Amerika Serikat untuk menerapkan kebijakan yang diinginkan Israel.” Epstein memasang kamera pengawas “di setiap sudut setiap ruangan di rumah-rumahnya.” Dia memiliki ruang kendali rahasia di ruang bawah tanah rumah mewahnya di Upper East Side Manhattan, tempat dia dapat memantau setiap kamera secara pribadi.

“Warga Israel mahir menemukan materi yang dapat digunakan untuk melakukan pemerasan terhadap orang-orang paling berkuasa di dunia,” tulis The People’s Voice.

Mossad sudah pasti, akan melindungi salah satu agennya yang paling efektif. Berkat upaya Epstein, Israel praktis menguasai seluruh dunia Barat.

“Seluruh elit politik AS dari kedua partai telah tercemar. Inilah keruntuhan sejati Barat,” kata filsuf Rusia Alexander Dugin.

Menurutnya, seluruh Barat kini telah jatuh di bawah kaki kelompok tertentu, dan hanya para pemimpin BRICS yang tersisa.