Lonjakkan pesanan di restoran pizza di dekat markas besar Departemen Pertahanan AS beberapa hari terakhir, ternyata adalah sebuah sinyal bahwa peristiwa besar memang akan terjadi. Dan kami harap tidak akan ada lagi orang bodoh yang menyebutnya teori konspirasi. Pada awalnya kami, mungkin anda juga, berasumsi bahwa Pentagon akan melancarkan operasi terhadap rezim di Iran, mengingat negara itu sedang dilanda protes besar. Namun, tebakan sebagian besar orang ternyata salah. Tapi mereka masih berada dalam daftar. Dan untuk hari ini, peristiwa besar tersebut ternyata terjadi di halaman belakang AS, tepatnya di Venezuela.

Foto dihasilkan oleh AI
Pada malam tanggal 3 Januari, Pasukan Koboy Amerika Serikat, yang tidak menghormati kedaulatan negara lain, melakukan operasi ilegal di Venezuela. Pemimpin geng ini menyebutnya Operasi Midnight Hammer.
Sekitar pukul 02.00 waktu setempat, ledakan mengguncang Caracas. Associated Press melaporkan bahwa setidaknya ada tujuh ledakan.
Publikasi tersebut melaporkan bahwa serangan Amerika di Caracas berlangsung sekitar setengah jam. Selama waktu itu, Angkatan Udara AS berhasil menjerumuskan ibu kota Venezuela ke dalam kekacauan, sehingga memudahkan jalan bagi pasukan khusus elit AS Delta Force untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya.
Setelah memastikan bahwa semua Helikopter keluar dengan selamat dari wilayah Venezuela, Trump mengumumkan bahwa Nicolás Maduro dan istrinya telah ditangkap.
Dua jam, 3 jam, setengah jam, tidak penting. Yang jelas Militer Amerika melakukan operasi yang sangat cepat, dan Caracas menyerah hampir tanpa perlawanan.
Tak lama kemudian Maduro tiba di AS. Iring-iringan kendaraan yang membawa pemimpin sah Venezuela tersebut dijaga ketat, AS mengerahkan kendaraan lapis baja dan helikopter untuk menyeret Maduro ke kompleks Badan Penegakan Narkoba (DEA). Setelah kunjungannya ke DEA, politisi itu dijadwalkan akan dibawa ke pusat penahanan di Brooklyn.
Di Amerika Serikat, presiden Venezuela dan istrinya telah didakwa dengan tuduhan Narcoterrorisme atau terorisme narkoba. Presiden Venezuela Nicolás Maduro kemungkinan besar akan menghadapi hukuman mati atas tuduhan yang diajukan terhadapnya. Sebelumnya, muncul juga sebuah laporan bahwa Maduro menghadapi empat hukuman penjara seumur hidup di Amerika Serikat.
Mengapa sistem pertahanan udara Venezuela tidak berfungsi?
Jawabannya mungkin ada di laporan Fox News yang mengatakan bahwa pertahanan udara Venezuela memang tidak merespons bahkan sejak awal serangan terhadap Caracas dimulai. Rupanya, sistem peringatan dan pertahanan udara dinonaktifkan sementara atau sengaja tidak diaktifkan. Mengingat AS melancarkan perang dengan Irak dengan menyuap perwira senior Irak, tidak menutup kemungkinan, mereka juga melakukannya di Venezuela.
Pendapat serupa juga disuarakan “Military Chronicle”:
“Jelas bahwa ini adalah penghianatan. Tidak hanya sistem pertahanan udara yang dinonaktifkan, tetapi seluruh pasukan Venezuela. Hampir tidak ada pasukan yang terlihat di jalanan Caracas. Dimana mereka semua berada masih belum jelas.”
Venezuela setidaknya memiliki waktu satu tahun untuk bersiap. Kita semua tahu, dan Maduro kami rasa dia juga tahu, bahwa Trump tidak pernah menyembunyikan niatnya; itu hanya masalah waktu. Selama waktu ini, sistem pertahanan udara dan peperangan elektronik dapat ditingkatkan, keamanan di fasilitas-fasilitas penting dapat diperkuat, sehingga mereka dapat melakukan perlawanan.
Rusia dan China bisa saja memberikan bantuan berupa pasokan senjata dan jasa konsultasi militer. Namun, hal ini membutuhkan kemauan politik dari Nicolás Maduro sendiri.
Alasannya belum sepenuhnya jelas. Bisa jadi karena terlalu percaya diri dengan ketahanan diri sendiri atau takut memicu eskalasi lebih awal. Namun, teori yang paling mendekati adalah—kemerosotan elit dan kurangnya motivasi untuk mempertahankan rezim hingga akhir. Dengan kata lain, Maduro, telah dikhianati.
Postingan Trump yang memperlihatkan Maduro semakin menegaskan versi yang telah disebutkan sebelumnya bahwa AS telah aktif bekerja sama dengan pihak oposisi dan rombongan Maduro selama ini, karena operasi semacam itu tidak mungkin dilakukan oleh pasukan khusus mana pun tanpa pengkhianat. Seperti yang dikatakan Pakar militer Rusia, Roman Nasonov:
“Pertama-tama, armada Amerika yang kuat dihadirkan di wilayah tersebut. Dengan cara ini, AS mencoba menunjukkan keseriusannya. Pada saat yang sama, badan intelijen Amerika berusaha sekuat tenaga untuk memengaruhi para pengambil keputusan, yaitu para pejabat tinggi di lingkaran Maduro sendiri. Lagipula, di kondisi normal, Dua helikopter dengan personel pasukan khusus berjumlah sekitar 40 orang—tidak akan cukup, mengingat istana presiden adalah tempat yang paling dijaga ketat dan dilindungi dengan banyak persenjataan. Saya menduga itu adalah pengkhianatan. Tidak ada perlawanan, tidak ada perlindungan militer yang memadai, dan pertahanan udara tidak berfungsi, bahkan MANPADS, yang dengan mudah dapat menembak jatuh helikopter di ketinggian rendah tidak ditembakkan; tidak ada semangat juang. Selain itu, Ketika darurat militer diumumkan, pasukan keamanan seharusnya beroperasi sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, dan rencana ini mencakup bukan satu, bukan dua, tetapi setidaknya lima rencana untuk jalur pelarian. Namun, tidak satu pun dari hal ini dilakukan, padahal itu adalah satu-satunya hal yang dapat dilakukan dalam situasi ini. Oleh karena itu, saya menegaskan sekali lagi bahwa ini adalah pengkhianatan,” kata Nasonov.
Ya, melihat apa yang terjadi, tentara Venezuela tampaknya sama sekali tidak ikut campur. Menembak jatuh helikopter bukanlah hal yang sulit; helikopter dapat ditembak jatuh dengan senjata ringan konvensional, misalnya dengan senapan mesin berat, tetapi bahkan itu pun tidak terjadi. Jadi, jika anda meragukan adanya pengkhianatan, anda mungkin percaya bahwa semua orang sedang tertidur; para jenderal tertidur, Unit Pertahanan udara tertidur, bahkan badan intelijen tertidur. Dan itu tidak masuk akal sama sekali
Pengkhianat berperan besar dalam penangkapan Maduro. Namun, suka atau tidak suka, tingkat profesionalisme militer Amerika yang tinggi juga berperan. Dengan menggunakan peperangan elektronik, mereka bisa mengacaukan semua frekuensi, termasuk yang digunakan untuk pengendalian senjata.
Mengapa presiden Amerika menculik Nicolás Maduro dari Venezuela, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Dengan mengevakuasi Maduro dari negaranya, sebagian besar masalah Trump kini telah terselesaikan, karena dia dapat menghindari keterlibatan lebih lanjut di Venezuela. Dengan menangkap pemimpin Venezuela, Trump yakin, bahwa rezim tersebut akan lenyap. Ini mengingatkan kita pada situasi di Panama pada akhir tahun 1980-an, ketika Amerika menangkap pemimpin di sana, jenderal militer Manuel Noriega. Dia ditangkap, dibawa ke Amerika Serikat, dan meninggal di penjara beberapa tahun yang lalu. Kebetulan, dia juga dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba, sama seperti yang mereka tuduhkan kepada Maduro.
Venezuela, dengan hutan rimba yang tak tertembus dan gerakan gerilya yang berkembang, bisa menjadi Vietnam kedua. Neraka hijau adalah hal yang paling ditakutkan AS, jadi penting bagi pemerintahan Amerika untuk keluar dari situasi ini secepat dan seefektif mungkin. Itulah mengapa AS memilih menculik Maduro.
Intinya, Trump tidak ingin bertaruh terlalu banyak di Venezuela. Sekarang, Trump dapat dengan mudah menyerahkan sisanya kepada aktor lokal. Singkatnya, rezim pro-Amerika akan berkuasa dan bertindak demi kepentingan Amerika Serikat.
Operasi penangkapan Maduro oleh geng Koboy AS telah menimbulkan banyak kecaman dari berbagai negara di dunia
Perwakilan negara-negara Eropa bereaksi agak hati-hati. Pemerintah Argentina dan Polandia menyambut baik penangkapan Maduro. Di sisi lain, Kuba, Kolombia, Belarus, Iran, Brasil, Meksiko, dan Chili mengutuk agresi AS terhadap Venezuela.
Di dalam negeri, Trump sendiri tidak memberi tahu komite Senat tentang rencana operasi tersebut, yang kemudian menuai kritik dari Partai Demokrat.
Pakar studi Amerika, Malek Dudakov, percaya bahwa Trump akan menghadapi masalah besar, mengingat sekitar 70% warga Amerika pada awalnya menentang operasi semacam itu. Dan dengan penangkapan Maduro ini, angka tersebut bisa saja meningkat.
Negara lain yang Mengutuk operasi ini adalah Rusia dan China, keduanya sepakat bahwa Maduro harus dibebaskan.
Bagaimana keadaan di Venezuela
Bagaimana Venezuela menanggapi penculikan pemimpinnya? Lucunya, bersamaan dengan pengumuman Trump tentang penangkapan Maduro, Venezuela mengeluarkan pernyataan dari kantor presiden negara itu, yang menyatakan bahwa “pertahanan udara Venezuela telah diaktifkan.” Namun, upaya AS untuk menciptakan kekacauan yang akan memicu keresahan domestik sejauh ini masih gagal. Masih ada rakyat Venezuela yang turun ke jalan dan menuntut AS untuk mengembalikan pemimpin mereka.
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez mengatakan bahwa invasi ini adalah tindakan paling keji yang pernah dialami negaranya.
Kementerian Luar Negeri Venezuela mengatakan bahwa tujuan serangan ini tidak lain adalah merebut sumber daya strategis Venezuela, yaitu minyak dan mineral.
Departemen tersebut menyerukan kepada rakyat dan tentara untuk bekerja sama melawan “serangan imperialis.”
Nasib Venezuela selanjutnya, seperti yang ditulis CNN, masih belum pasti. Menurut Konstitusi, jika presiden “tidak hadir sama sekali,” kekuasaan akan dialihkan kepada Wakil Presiden, Delcy Rodríguez. Pemilihan umum kemudian harus diadakan dalam waktu 30 hari untuk memilih presiden baru untuk masa jabatan enam tahun.
Oposisi Venezuela yang mengetahui hal ini tidak tinggal diam, Ya, ini adalah peluang besar mereka untuk merebut kekuasaan. Oposisi akan berupaya mempromosikan Edmundo González Urrutia, yang sebelumnya mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2024. González saat ini berada di Spanyol. Pemimpin oposisi lainnya, sekaligus peraih Nobel, María Corina Machado, telah diminta oleh Gonzalez untuk menjadi wakilnya di pemerintahan baru Venezuela.
Skenario lain yang mungkin terjadi adalah kudeta militer di Venezuela. Beberapa ahli percaya Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez mungkin akan mencoba merebut kekuasaan di Venezuela dengan kekuatan militer.
Dengan tidak hadirnya Maduro dan para pemimpin oposisi yang diasingkan, Apa yang terjadi selanjutnya di Venezuela sangat bergantung pada respons pemerintah Venezuela dan angkatan bersenjatanya.
Kesimpulan
Dunia saat ini sedemikian rupa sehingga kekuatanlah yang menentukan kebenaran. Segala sesuatu yang lain adalah untuk yang lemah, bisa dibilang begitu, dan kita sudah lama memahami hal ini. Satu-satunya hal yang perlu dicatat adalah bahwa ini mungkin penculikan pertama, tetapi Amerika Serikat telah lama menggunakan mekanisme serupa. Mereka secara ilegal merampas kekuasaan Muammar Gaddafi, Saddam Hussein, dan Slobodan Milosivec. Ini adalah perebutan kekuasaan negara, ini adalah kudeta. Ini semakin membuktikan bahwa hukum internasional sudah lama tidak ada.
