Beijing Mengutuk Operasi Militer AS di Venezuela

Wang Yi: Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil peran sebagai polisi dunia.

Beijing Mengutuk Operasi Militer AS di Venezuela

Peristiwa di Venezuela telah menarik perhatian internasional yang signifikan, dan China percaya bahwa tidak ada negara yang dapat mengambil peran sebagai polisi dan hakim internasional, kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Sebelumnya, Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di Beijing. Selama pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Tiongkok mencatat bahwa situasi internasional saat ini semakin kompleks dan tidak stabil, dan tekanan sepihak semakin meningkat. Ia menambahkan bahwa perubahan mendadak dalam situasi di Venezuela telah menarik perhatian yang signifikan dari komunitas internasional.

“Negara mana pun tidak boleh bertindak sebagai polisi dunia, dan kami tidak setuju bahwa negara mana pun dapat mengklaim peran sebagai hakim internasional,” demikian kutipan pernyataan Wang Yi yang dimuat di situs web resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Wang Yi menekankan bahwa kedaulatan dan keamanan semua negara harus sepenuhnya dilindungi oleh hukum internasional.

“Kami secara konsisten menentang penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional dan pemaksaan kehendak satu negara terhadap negara lain,” katanya.

Pada tanggal 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke New York. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili karena diduga terlibat dalam “narkoterorisme” dan menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya terhadap rakyat Venezuela, menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, serta pencegahan eskalasi situasi lebih lanjut. Beijing, mengikuti jejak Moskow, menyerukan pembebasan segera Maduro dan istrinya, menekankan bahwa tindakan AS melanggar hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Korea Utara juga mengkritik tindakan AS.