Topik hari ini yang masih hangat adalah upaya pembunuhan terhadap mantan dan, kemungkinan besar, Presiden AS Donald Trump di masa depan selama rapat umum di Pennsylvania.

Calon presiden AS Donald Trump dibawa keluar panggung dengan kondisi telinga berdarah
Dalam keseluruhan cerita ini, seperti yang diharapkan, ada banyak hal dan pertanyaan yang tidak dapat dipahami yang tidak akan pernah kita dapatkan jawabannya.
Pertama, motif si penembak, yang langsung dihabisi. Diketahui, dia berusia 20 tahun dan berasal dari negara bagian tempat upaya pembunuhan tersebut dilakukan. Menurut beberapa laporan, dia terdaftar sebagai pemilih Partai Republik, namun beberapa tahun lalu dia memberikan sumbangan kepada Demokrat.

Foto dari media sosial
Segera setelah upaya pembunuhan tersebut, sebuah video muncul di mana si penembak mengakui kebenciannya terhadap Partai Republik dan Trump.
Beberapa bukti lainnya juga muncul dari akun media sosial yang diduga milik pelaku penembakan, yang menunjukkan bahwa dia menampilkan poster yang mendukung Ukraina. Ini cukup masuk akal, mengingat lawannya (Demokrat) menggambarkan Trump sebagai “teman Rusia.” Namun, sejauh ini belum ada konfirmasi bahwa halaman tersebut benar-benar milik Thomas Matthew Crooks – karena tidak ada foto dirinya di sana.
Sang penembak jelas tidak bertindak hanya karena dorongan sesaat, faktanya dia mempersiapkannya dengan cukup matang. Bahan peledak juga ditemukan di mobilnya. Dia menggunakan senapan AR-15 “klasik” khusus yang sangat disukai oleh para penggemar penembakan massal.
Senjata ini pernah digunakan di Las Vegas pada tahun 2017 dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Florida, penembakan di Borderline Bar Grill, serangan terhadap sebuah sinagoga pada tahun 2019 dan di sebuah klub gay di tahun 2022.
Ngomong-ngomong, penembakan terhadap presiden di Amerika juga telah menjadi semacam tradisi. Sebelumnya, 4 presiden AS pernah mengalaminya.
Kedua, ada banyak pertanyaan tentang petugas keamanan Trump, yang telah diperingatkan oleh peserta yang hadir untuk waspada karena mereka melihat seorang pria dengan senapan sedang merayap di atap. Namun baik polisi maupun agen Dinas Rahasia tidak melakukan apa pun.

Foto tersangka yang merayap diatas sebuah bangunan dengan membawa senapan
Mungkin para petugas keamanan mengira penembaknya adalah “subkontraktor” – penembak jitu dari kantor lain. Koordinasi dalam kondisi saling menjaga kerahasiaan dan saling bersaing merupakan titik lemah badan intelijen seluruh dunia.
Tidak jelas mengapa pria dengan senapan itu diizinkan mendekat? Seharusnya dalam kasus seperti itu, petugas keamanan tidak hanya menjaga area panggung, tetapi juga disekitarnya, untuk menetapkan kendali atas semua titik tembak potensial. Dan faktanya penembaknya berada pada posisi yang ideal untuk menembak – tepat di seberang Trump, dan tidak ada yang peduli dengan posisi tersebut, karena berada di luar batas keamanan.

Foto dari X
Fakta bahwa orang yang tidak profesional berhasil melepaskan sebanyak sembilan tembakan sebelum dilumpuhkan juga merupakan sebuah misteri. Bahkan FBI pun terkejut “bagaimana dia mengaturnya?” Media melaporkan bahwa tembakan pertama seharusnya mengenai sasaran, namun Trump benar-benar diselamatkan oleh keajaiban. Pada saat-saat terakhirnya dia menoleh dengan tajam dan peluru hanya mengenai telinganya, bukan kepalanya. Ini merupakan salah satu bukti keajaiban di dunia ini.

Foto dari saluran Telegram infantmilitario
Setelah kejadian, tentu saja, seseorang dari Partai Demokrat berpendapat bahwa semua ini adalah karya Trump – untuk meningkatkan popularitasnya dan memperkuat citranya.
“Carilah siapa yang diuntungkan,” kata mereka.
Tidak diragukan lagi, Trump memang penerima manfaat utama dari situasi ini. Tetapi untuk mengatur pertunjukan seperti itu dengan penembakan dan mayat yang nyata tentu sangat tidak masuk akal – terlebih, mereka juga harus melibatkan sekelompok orang dari berbagai departemen yang profesional – dan secara teknis itu sangat sulit. Jadi hampir tidak ada keraguan bahwa upaya pembunuhan itu nyata.
Lalu apakah ini merupakan upaya untuk membunuh Trump? Lalu jika benar ada upaya pembunuhan, apakah hanya dilakukan satu orang, atau operasi ini dilakukan oleh kelompok tertentu?

Calon presiden AS Donald Trump dibawa keluar panggung dengan telinga berdarah
Jika kita berbicara tentang tindakan yang direncanakan oleh dinas khusus dengan tujuan membunuh seorang kandidat, mereka tentu akan mudah melakukannya! Kecil kemungkinan mereka akan mengirim seorang non-profesional muda untuk melakukan tugas seperti itu, yang jelas-jelas tidak akan memiliki kesempatan kedua.
Di sisi lain, ada juga orang-orang gila (orang yang tulus, penuh gairah, mencintai sesuatu secara berlebihan) yang sering digunakan secara membabi buta oleh para pemain politik. Yang jelas, identitas penembak dan motifnya masih diselimuti misteri. Ada laporan bahwa aparat penegak hukum Amerika belum menemukan bukti apa pun yang menunjukkan bahwa penembak tersebut adalah bagian dari konspirasi yang lebih besar. Hubungannya dengan organisasi ekstremis mana pun belum terungkap. Jadi, jika pria itu dimanfaatkan, kita tidak akan pernah mengetahuinya.
Jika aksi penembakan tersebut dilakukan untuk mengancam atau mengintimidasi Trump dan memaksanya untuk menarik pencalonannya, maka tujuan mereka belum tercapai – Trump justru semakin bertekad untuk menang.
Bagaimanapun, kita harus memahami bahwa lawan-lawan Trump tidak akan berhenti sampai disitu saja. Dan jika ini adalah peringatan, maka selanjutnya tidak akan ada kata ampun bagi Trump. Artinya, upaya pembunuhan akan terus berlanjut, dan persiapannya akan jauh lebih serius.
Pilihan untuk memenjarakan Trump juga sepenuhnya telah ditinggalkan oleh lawan-lawannya, karena khawatir hal ini justru akan meningkatkan popularitasnya, dan Trump dapat dengan mudah memenangkan pemilu bahkan dari penjara, yang akan menjadi penghinaan khusus bagi Partai Demokrat.
Saat ini, masalah yang dihadapi Partai Demokrat setelah upaya pembunuhan yang gagal semakin besar. Biden sudah kalah dalam pemilu. Dia sudah kehilangan harapannya – Sekarang tidak ada peluang untuk penggantinya, tidak peduli siapa yang dipilih untuk menggantikannya, karena Trump setelah peristiwa tersebut telah dianggap oleh banyak orang sebagai pejuang, fotonya dengan tangan terangkat dan wajah berdarah dengan latar belakang bendera Amerika akan menjadi foto yang ikonik dan diingat oleh setiap orang.

Foto Trump dengan tangan terangkat dan berdarah-darah menjadi sampul depan di hampir seluruh surat kabar dunia
Menurut Action Network, Trump unggul signifikan atas Biden dalam pemilu, peluangnya untuk menang diperkirakan 58%, sedangkan peluang Biden sebesar 13%.
Sekarang satu-satunya hal yang bisa dilakukan Demokrat untuk menang adalah membunuh Trump sepenuhnya.
Pada tahun 2016, Trump sendirian, dan dalam banyak hal terlihat seperti “orang aneh” dengan ide-idenya; bahkan di partainya sendiri, mereka tidak menyukainya, menganggapnya sebagai orang baru yang terlalu banyak tingkah. Namun, saat ini, Trump telah berhasil membangun sebuah partai untuk dirinya sendiri; partai tersebut tidak lagi bersifat Partai Republik melainkan Trumpist.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, orang Amerika tidak memilih kandidat, atau individu. Mereka memilih gambaran masa depan, perubahan radikal yang sudah lama tertunda di negaranya. Mereka (Republik dan Demokrat) memiliki dua agenda yang benar-benar tidak sejalan, yang satu didasarkan pada tradisi, keluarga yang normal, dukungan terhadap bisnis dalam negeri, lapangan kerja bagi orang Amerika, keamanan, sedangkan yang lainnya didasarkan pada LGBT*, perusahaan transnasional, migrasi yang tidak terkendali, kebebasan dalam segala hal, termasuk kejahatan dan ekstremisme. Jika sebelumnya agenda-agenda tersebut berjalan berdampingan, nampaknya hal ini tidak akan bertahan lama. Di Internet Anda dapat menemukan banyak motivasi bernada ancaman dari “redneck” yang mengatakan bahwa mereka siap untuk mengangkat senjata jika anak-anak mereka diganggu di sekolah karena perubahan gender. Jadi, ada banyak “fasis-Trumpist” yang siap berperang jika ada yang melanggar batas suci mereka dan tidak segan-segan menyeret negaranya ke dalam jurang kediktatoran.
Ya, ini adalah perang saudara, dan Amerika telah selangkah lagi darinya. Demokrat sekarang hanya memiliki dua pilihan, membunuh Trump atau mencoba membatalkan pemilu.
