FIFA: Permainan Besar Politik dan Uang Besar

Kami sebenarnya tidak ingin membahas tentang Piala Dunia, mengingat kebijakan sepihak FIFA terhadap Rusia. Namun, kebejatan mereka yang terang-terangan membuat kami tidak bisa tidak menulis sesuatu tentangnya. Kita semua tahu, Rusia dikeluarkan dari turnamen, dan Israel yang melakukan genosida terang-terangan di Gaza dan menyerang secara membabi buta negara-negara tetangganya tetap mengikuti kualifikasi Piala Dunia.

FIFA: Permainan Besar Politik dan Uang Besar

Kisah Balogan, pesepakbola AS, yang kartu merahnya dibatalkan bahkan memicu kemarahan dari UEFA (meskipun mereka sama bajingannya). Namun, ini hanyalah perselisihan lama mereka tentang siapa yang berkuasa. Dan yang berkuasa adalah orang yang menyuap dan memanipulasi semua orang. AS dan Trump. Lalu, apakah akan ada penyelidikan? Yah, mungkin nanti, ketika semua orang yang terlibat dalam skandal itu sudah mati.

Di sisi lain, FIFA dan IOC merupakan instrumen politik yang sangat kuat dan selama ini nyaris tak tersentuh.

FIFA dan IOC mengakui negara-negara “baru” meskipun negara tuan rumah turnamen tidak pernah mengakuinya. Misalnya, bendera Kosovo yang berkibar di Sochi, meskipun Rusia tidak pernah mengakui negara tersebut. Hal yang sama terjadi di Beijing saat Olimpiade, di mana bendera Taiwan dikibarkan. Jadi, FIFA dan IOC adalah dua senjata politik yang ampuh.

FIFA tidak menghukum Ukraina karena slogan-slogan fasisnya. UEFA yang melakukannya. FIFA menganggap bendera Rusia sebagai “simbol terlarang” dan mendenda Serbia karenanya.

Sekarang mata semua orang tertuju pada timnas Argentina, terutama setelah mengalahkan timnas Inggris di Semifinal dan melaju ke Final. Setelah pertandingan usai, para pemain merayakannya dan mengibarkan spanduk bertuliskan, “Kepulauan Malvinas adalah Argentina.” Nah, seharusnya Argentina akan didenda $20.000. Itu pun hanya jika Inggris membuat keributan besar. Akankah ada yang mendiskualifikasi tim Messi dari final? Itu adalah pertanyaan besarnya.

Kampanye ‘Argentina diseret ke final’ sebenarnya tidak muncul begitu saja; ini adalah cerminan dari bagaimana industri ini bekerja. Lionel Messi adalah magnet pemasaran global, pusat perhatian dunia, sekaligus ikon yang meraup 140 juta dolar AS per tahun dari iklan. Bersama beberapa tim besar lainnya, Argentina adalah penyelamat finansial sekaligus mesin uang utama Piala Dunia.

Jadi, sudah jelas juga mengapa FIFA mendorong ide Piala Dunia 64 tim—lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak konten yang dikemas untuk penyiar dan lebih banyak uang yang diraup.

Infantino, si bajingan, melakukan segala yang dia bisa untuk tetap berkuasa, mendapatkan lebih banyak uang, dan menghindari sanksi AS. Anggaran FIFA untuk tahun 2023–26 adalah $13 miliar, tepat dua kali lipat dari $6,5 miliar pada tahun 2019–22.

Sepak bola akan tetap menjadi candu bagi orang-orang di seluruh dunia. Tapi perlu Anda ketahui, slogan bahwa sepak bola “anti diskriminasi dan netral” adalah omong kosong. Olahraga ini dikendalikan oleh orang-orang yang sama bajingannya dengan para politikus di Barat. Namun, yah… meskipun orang-orang telah mengetahui hal ini sayangnya pertandingan final akan tetap ditonton oleh 1,5–2 miliar orang di seluruh dunia! Anda mungkin termasuk diantaranya.