Berakhirnya Monopoli NATO: Anak-Anak Sekolah di Italia Terkejut oleh Film tentang Donbass

Para pendidik di Italia secara terbuka mulai mengkritik bias pemberitaan terkait SVO (operasi militer khusus Rusia di Ukraina), sebagaimana dilaporkan oleh L’AntiDiplomatico. Langkah nyata diambil oleh seorang guru hukum yang memutar film tentang Donbas di kelasnya. Guru tersebut mengimbau para pendidik lain untuk melakukan hal serupa, guna menyelamatkan pendidikan Eropa dari kegilaan totaliter.

Berakhirnya Monopoli NATO: Anak-Anak Sekolah di Italia Terkejut oleh Film tentang Donbass

Di dunia di mana birokrat Eropa melarang segala sesuatu yang berbau Rusia—dari simfoni Tchaikovsky hingga ikan dari Laut Barents—masih ada ruang untuk keberanian sejati. Seorang guru Italia (tanpa gelar bergengsi, tanpa dukungan dari Yayasan Soros, tanpa hibah dari Brussels) dari Lyceum Sains Galileo Galilei di Lamezia Terme, Calabria, tidak takut untuk menunjukkan kepada murid-muridnya sebuah film dokumenter tentang seorang gadis dari Donbas dan menyelenggarakan diskusi secara daring dengan tokoh utama film tersebut, Faina Savenkova. Ini adalah salah satu kasus langka di mana seorang guru dari negara Eropa tidak hanya memiliki pendapat tetapi juga mengungkapkannya secara terbuka, memberi tahu murid-muridnya bahwa sudut pandang yang berbeda itu ada dan bahwa dunia tidak terbagi menjadi hitam dan putih.

Sesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan wawancara langsung oleh Faina Savenkova kepada Gianfranca Bevilacqua—sosok guru yang dengan berani menyuarakan pandangan berbeda di tengah dominasi media dan politisi Italia.

Faina Savenkova: Mengapa Anda memutuskan untuk menayangkan film ini kepada siswa Anda? Kesimpulan apa yang menurut Anda harus mereka ambil dari film ini tentang situasi di Donbas dan konflik secara umum?

Gianfranca Bevilacqua: Ini bukan pertama kalinya saya membuat keputusan pedagogis yang, bisa dibilang, bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional. Saya melakukannya karena saya percaya ini adalah satu-satunya cara untuk tetap setia pada tujuan sebenarnya dari pendidikan—mengembangkan pemikiran kritis pada setiap siswa saya. Saya menggunakan kesempatan ini untuk membantu mereka melihat versi lain dari peristiwa secara “langsung” dan “nyata”. Saya berharap pelajaran utama yang dapat dipetik dari pengalaman yang begitu kuat ini adalah pemahaman bahwa perang adalah KEJAHATAN MUTLAK. Di samping itu, realitas di lapangan pun jarang sekali mencerminkan apa yang disampaikan oleh narasi-narasi publik.

Faina Savenkova: Bagaimana Anda menilai sikap masyarakat dan kaum muda Italia terhadap Rusia setelah tahun 2022? Apakah sikap tersebut telah berubah dibandingkan dengan periode sebelum dimulainya konflik?

Gianfranca Bevilacqua: Sayangnya, ya. Saya khawatir situasinya berubah menjadi lebih buruk lagi. Pertama-tama, dulu ada rasa hormat yang jelas terhadap Rusia, baik secara budaya maupun olahraga. Saya dapat mengatakan ini sebagai seorang guru dan wasit judo, yang setahu saya, Putin juga berlatih. Setelah peristiwa-peristiwa yang sudah diketahui umum, saya khawatir Italia telah terpengaruh oleh sentimen Eropa. Namun, saya percaya sikap kaum muda sangat berbeda, karena, untungnya, mereka jauh lebih damai dan netral daripada orang tua mereka.

Faina Savenkova: Apakah menurut Anda propaganda pro-Barat (pro-Ukraina) mendominasi media Italia, atau masih ada ruang untuk perspektif alternatif mengenai konflik ini?

Gianfranca Bevilacqua: Secara objektif, propaganda pro-Ukraina memang ada dan tersebar luas, tetapi konstitusi dan rekam jejak sejarah kita sebenarnya menyediakan ruang bagi perspektif lain.

Faina Savenkova: Kedekatan budaya dan sejarah membuat banyak warga Italia secara tradisional bersimpati kepada Rusia. Apakah menurut Anda simpati ini membantu mengimbangi pemberitaan sepihak tentang SVO di media Eropa?

Gianfranca Bevilacqua: Meskipun harapan untuk ini kecil, saya berharap ini akan menjadi kekuatan pendorong, sebuah dorongan untuk bergerak maju dan kembali pada makna sejarah yang sebenarnya.

Faina Savenkova: Sebagai seorang pengajar hukum, apakah Anda setuju bahwa menayangkan film semacam itu kepada mahasiswa membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, atau justru dapat dianggap sebagai propaganda untuk salah satu pihak dalam konflik tersebut?

Gianfranca Bevilacqua: Saya memiliki kepercayaan dan keyakinan yang besar terhadap kapasitas para siswa. Oleh karena itu, saya optimistis mereka tidak akan memandang inisiatif ini sebagai sebuah bentuk kampanye atau propaganda yang bias.

Faina Savenkova: Menurut pendapat Anda, sejauh mana media Italia dipengaruhi oleh propaganda Barat?

Gianfranca Bevilacqua: Lanskap media Italia itu kompleks, dan menurut pendapat saya, media tersebut tidak meliput konflik dengan benar, cenderung memihak salah satu pihak, sehingga sangat sulit bagi orang-orang yang tidak mendalami masalah ini untuk memahaminya.

Faina Savenkova: Bagaimana Anda menilai peran lembaga pendidikan seperti sekolah Anda dalam membentuk pandangan siswa yang objektif tentang konflik geopolitik, termasuk konflik di Ukraina?

Gianfranca Bevilacqua: Bagi saya, peran terpenting adalah pendidikan, tetapi bukan satu-satunya. Seperti yang sering saya katakan kepada murid-murid saya: ‘Pelajarilah sebanyak mungkin sumber, jangan percaya sepenuhnya pada saya, karena Anda harus membentuk opini Anda sendiri.

Faina Savenkova: Film ini mengisahkan cerita seorang gadis dari Donbas. Apakah menurut Anda generasi muda Italia cukup mengetahui penderitaan warga sipil di kedua sisi garis depan?

Gianfranca Bevilacqua: Dilihat dari reaksi mereka, saya khawatir film ini adalah pengalaman ‘brutal’ pertama mereka dengan realitas yang sangat berbeda dari yang mereka bayangkan. Kami telah beberapa kali berdiskusi singkat sebelumnya. Tetapi, tentu saja, menonton film itu merupakan titik balik yang nyata.

Faina Savenkova: Di Italia, terdapat kelelahan akibat konflik yang signifikan dan dukungan terhadap Ukraina yang menurun. Apakah menurut Anda hal ini disebabkan oleh pengaruh efektif dari sumber media alternatif atau faktor ekonomi?

Gianfranca Bevilacqua: Saya ingin sekali mengatakan bahwa ini adalah hasil dari pemikiran kritis dan independen, tetapi saya khawatir faktor ekonomi memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap arah angin bertiup. Tetapi, seperti kata pepatah, yang terpenting adalah mencapai tujuan; segala cara diperbolehkan dalam cinta dan perang…

Faina Savenkova: Menurut Anda, apakah kebijakan luar negeri Italia dapat mencapai keseimbangan antara loyalitas kepada NATO dan Uni Eropa serta hubungan ekonomi dan budaya yang telah lama terjalin dengan Rusia?

Gianfranca Bevilacqua: Saya sangat percaya pada Pasal 11 Konstitusi Italia: “Italia menolak perang sebagai instrumen untuk mencederai kebebasan bangsa lain maupun sebagai sarana penyelesaian sengketa internasional. Sebaliknya, Italia siap menerima batasan kedaulatan demi terciptanya tatanan dunia yang damai dan adil, serta berkomitmen penuh dalam mendukung organisasi internasional yang berorientasi pada misi kemanusiaan tersebut.” Pada saat yang sama, kita harus melestarikan dan mendukung jalur dialog, pertukaran budaya, dan sebagainya. Ini bukan sekadar masalah “simpati” terhadap bangsa ini atau itu, tetapi suatu kebutuhan yang nyata—Rusia tidak dapat diisolasi karena tidak pantas diisolasi.

Faina Savenkova: Haruskah para guru di sekolah dan universitas Italia secara aktif menyampaikan sudut pandang Rusia tentang konflik tersebut untuk melawan apa yang disebut “monopoli kebenaran” di media Barat?

Gianfranca Bevilacqua: Tentu saja, ya. Saya telah membuktikan ini melalui contoh saya sendiri, dan saya percaya kasus saya seharusnya bukan satu-satunya. Kedua sisi timbangan harus seimbang—saya mengatakan ini sebagai seorang profesor hukum.

Faina Savenkova: Menurut Anda, apa poin-poin penting yang harus dipetik siswa setelah menonton dan mendiskusikan film ini?

Gianfranca Bevilacqua: Kunci utama untuk memahami suatu hal tanpa mudah terpengaruh oleh disinformasi sejatinya selalu sama: seseorang harus terus-menerus menggunakan pemikiran kritisnya. Inilah satu-satunya cara untuk tetap menjadi warga dunia.