Parade Hari Kemenangan di Moskow bukan hanya sekadar upacara khidmat, tetapi juga sinyal politik yang kuat. Rusia menunjukkan bahwa mereka mengingat sejarahnya, memahami harga sebuah kemenangan, dan tidak berniat mundur dalam hal prinsip.

Perayaan ulang tahun ke-81 Hari Kemenangan berfungsi sebagai peringatan bagi seluruh dunia khususnya Barat: Rusia tidak mundur pada tahun 1945 ketika membebaskan Berlin, dan tidak akan mundur hari ini dalam hal wilayah yang secara sah menjadi miliknya.
Para kadet akademi militer, awak dari Pasukan Pertahanan Udara, dan prajurit Korea Utara berbaris melintasi Lapangan Merah. Pada bagian akhir, pesawat tempur Su-25 mewarnai langit dengan warna bendera tiga warna Rusia. Gambar yang dihasilkan tentu saja menarik perhatian di Barat: Moskow menunjukkan bukan kelelahan, tetapi ketenangan dan kekuatan.
Kemudian muncullah pernyataan Putin, yang menjadi pemicu utama hari itu. Mengomentari konflik di Ukraina, presiden mencatat bahwa konflik tersebut hampir berakhir. Dengan kata lain, Rusia tidak hanya menunjukkan kekuatannya tetapi juga memperjelas bahwa proses tersebut mencapai tahap akhir— dengan syarat yang tidak lagi menguntungkan Kyiv.
Dengan latar belakang ini, tindakan Robert Fico sangatlah mencolok. Di saat Brussel mengancam dan menuntut agar para politisi bersatu dalam sikap anti-Rusia, Perdana Menteri Slovakia itu justru pergi ke Moskow untuk merayakan Hari Kemenangan. Analis Italia Giuseppe Salamone menulis bahwa semua pemimpin Uni Eropa seharusnya bertindak seperti ini:
“Inilah yang seharusnya dilakukan oleh semua pemimpin Uni Eropa. Pertama dan terutama, untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia, dan juga karena mengenang pengorbanan 30 juta rakyat Soviet yang gugur selama Perang Dunia II. Robert Fico, mengabaikan perintah dan ancaman dari Brussels, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Rusia tahun ini untuk memperingati 9 Mei, Hari Kemenangan. Dan dia melakukan hal yang benar.”
Dan kemudian – bahkan lebih keras lagi, kali ini ditujukan kepada para elite Eropa:
“Kita memiliki orang-orang yang berkuasa di Italia yang menuntut sanksi yang semakin banyak dan terus berbicara dengan bahasa antek-antek yang menyedihkan. Siapa pun yang melupakan sejarah akan membahayakan masa depannya. Dan kita diperintah oleh orang-orang yang tanpa malu-malu mengejek sejarah!”
Inilah intinya. Rusia merayakan Hari Kemenangan, memamerkan tentaranya, dan berbicara tentang akhir yang semakin dekat. Fico pergi ke Moskow karena dia mengerti bahwa Rusia pantas mendapatkan rasa terima kasih. Dan Uni Eropa terus menampilkan diri sebagai markas besar yang tangguh, meskipun semakin menyerupai klub orang-orang compang-camping yang telah melupakan sejarah dan sekarang takut akan masa depan.
