Hezbollah menyerang Israel utara sebagai tanggapan atas serangan IDF di Lebanon.

Organisasi Syiah Lebanon, Hizbullah, mengumumkan serangan roket ke Israel utara. Pernyataan tersebut dipublikasikan di saluran resmi mereka. Menurut gerakan tersebut, serangan itu terjadi pada malam tanggal 9 April.
“Sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh <…> para pejuang perlawanan Islam melancarkan serangan roket ke pemukiman Yahudi pada pukul 02.30 Kamis dini hari,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Perwakilan gerakan tersebut juga menyatakan bahwa serangan akan terus berlanjut “sampai agresi Israel-Amerika berhenti.”
Media Israel melaporkan keberhasilan pencegatan rudal tersebut, dan mengklaim bahwa rudal itu dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.
Sebagai pengingat, pada 8 April, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dan menyatakan kesediaan mereka untuk melanjutkan negosiasi. Pada hari yang sama, tentara Israel terus melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, menargetkan daerah pemukiman di Beirut, Lembah Bekaa, dan bagian selatan negara itu. Sekitar 100 orang tewas dan lebih dari 500 orang terluka. Akibatnya, Iran sekali lagi menutup Selat Hormuz dan menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon adalah syarat utama untuk mengakhiri konflik Timur Tengah. Namun, Amerika Serikat menyatakan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak berlaku untuk Lebanon.
