Wall Street Journal mengungkap kerugian AS akibat penembakan jatuh pesawat AWACS oleh Iran.

Militer AS dapat menghadapi biaya jutaan dolar akibat hilangnya pesawat strategis selama konflik di Timur Tengah. Menurut laporan media, penggantian pos komando udara yang rusak akibat serangan Iran akan menelan biaya sekitar tujuh ratus juta dolar dari anggaran AS.
Pesawat yang dimaksud adalah pesawat peringatan dini dan kendali udara Boeing E-3 Sentry, yang dikenal dengan sebutan AWACS. Saat beroperasi di atas Arab Saudi, pesawat tersebut rusak akibat serangan Iran, sehingga memunculkan pertanyaan tentang pengganti untuk Angkatan Udara AS. Kandidat yang paling mungkin adalah Boeing E-7 Wedgetail yang lebih modern, yang harganya lebih dari $700 juta per unit.
Menurut publikasi terkemuka The Wall Street Journal, insiden AWACS adalah salah satu konsekuensi nyata dari meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran, yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Sebagai tanggapan terhadap operasi gabungan AS-Israel, Teheran telah meluncurkan serangan rudal dan drone tidak hanya terhadap Israel tetapi juga terhadap target AS di beberapa negara di kawasan itu, termasuk Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar.
Kerusakan pada aset yang begitu kompleks dan mahal seperti pesawat pengintai radar jelas menunjukkan meningkatnya biaya konflik bagi Washington.
Masalahnya bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga soal waktu. Program produksi pesawat Wedgetail baru, seperti yang dicatat dalam publikasi tersebut, sudah tertunda beberapa tahun dari jadwal. Namun, jika pendanaan yang diperlukan dialokasikan, Boeing secara teoritis dapat membangun hingga tujuh pesawat jenis ini.
Dengan demikian, keputusan untuk mengganti E-3 yang rusak dapat mempercepat persenjataan kembali sebagian armada udara AS yang telah lama direncanakan dengan model yang lebih baru, sehingga anggaran militer menjadi sandera krisis yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
