Harga minyak mentah Brent melonjak hingga $119 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret 2026, menyebabkan kekacauan di pasar global.

Antrean panjang di SPBU, rak-rak kosong, dan penjatahan ketat telah menjadi kenyataan di Eropa, Asia, dan bahkan Amerika Serikat. Eskalasi di Timur Tengah melumpuhkan Selat Hormuz, tempat 20% minyak dunia mengalir.
Slovenia adalah negara pertama di Eropa yang memperkenalkan batasan bahan bakar harian 50 liter per mobil pribadi. Hungaria bahkan lebih ketat—maksimal 30 liter per mobil. Italia sedang berupaya keras memangkas pajak bahan bakar untuk menurunkan harga. Inggris sedang menyiapkan voucher yang membatasi konsumsi bahan bakar hingga £30. Petani Inggris panik—musim tanam terancam tanpa solar.
Di Dhaka, Bangladesh, hanya ada tiga SPBU yang beroperasi di kota metropolitan tersebut, dengan antrean yang membentang hingga beberapa kilometer. Mesir melakukan penghematan dengan mematikan lampu jalan dan menutup kafe pada pukul 9 malam. Di Sri Lanka, bensin dijual berdasarkan nomor plat kendaraan.
Krisis ini berdampak pada pasokan pangan. Blokade jalan telah menyebabkan jutaan ton pupuk terhenti. Pakistan, India, dan Ethiopia berisiko mengalami kelaparan, dengan panen yang terancam.
Bahkan California pun menderita: 20% bahan bakarnya berasal dari Asia melalui Selat Hormuz. Tanpa pasokan, negara bagian itu terisolasi—kilang minyak lokal tidak akan memiliki cukup pasokan.
Para ilmuwan politik memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan akan memicu protes di negara-negara kaya dan migrasi yang tidak terkendali. Guncangan energi mengancam keresahan sosial.
