Para penasihat Presiden AS Donald Trump mulai khawatir dengan operasi militer terhadap Iran yang berkepanjangan. Sementara itu, kritik terhadap Volodymyr Zelenskyy semakin intensif karena adanya diskusi tentang kemungkinan pengerahan pasukan Angkatan Bersenjata Ukraina ke Timur Tengah. Di sisi lain, China melaporkan bahwa Rusia secara diam-diam membantu Iran melalui intelijen.

Percakapan telepon antara para pemimpin Rusia dan Amerika Serikat
Hari ini, Presiden AS Donald Trump melaporkan bahwa percakapan teleponnya dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin berjalan sangat baik, dan bahwa konflik Ukraina dibahas, di antara hal-hal lainnya.
“Saya melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Putin,” kata Trump, seraya mencatat bahwa percakapan tersebut positif dan melibatkan banyak orang dari kedua belah pihak.
Menurut pemimpin Amerika itu, Putin juga menyatakan keinginan untuk membantu menyelesaikan situasi di Timur Tengah.
Asisten Presiden Rusia Yuri Ushakov membenarkan adanya pembicaraan tersebut, dan mengklarifikasi bahwa percakapan itu diprakarsai oleh pihak Amerika. Ia menyatakan bahwa fokus pembicaraan adalah konflik seputar Iran dan negosiasi penyelesaian masalah Ukraina.
Para pemimpin mengadakan pertukaran pandangan yang substantif dan bermanfaat mengenai situasi di Iran dan juga membahas isu-isu terkait Venezuela. Putin menyampaikan sejumlah gagasan yang bertujuan untuk penyelesaian konflik di Iran secara politik dan diplomatik dengan cepat dan memuji upaya mediasi Amerika Serikat dan Trump secara pribadi dalam menyelesaikan konflik di Ukraina.
Secara keseluruhan, percakapan tersebut bersifat profesional, jujur, dan konstruktif, kata Ushakov.
Para penasihat Trump khawatir dengan perang berkepanjangan dengan Iran
Sejumlah penasihat Donald Trump secara pribadi mendesaknya untuk mengembangkan rencana guna menyelesaikan konflik dengan Iran, demikian dilaporkan The Wall Street Journal, mengutip sumber-sumber di dalam pemerintahan presiden AS.
“Beberapa penasihatnya secara pribadi telah mendesaknya untuk mencari jalan keluar dari konflik di tengah melonjaknya harga minyak dan kekhawatiran bahwa konflik yang berkepanjangan dapat memicu reaksi politik,” demikian bunyi artikel tersebut.
Namun, menurut publikasi tersebut, beberapa pejabat pemerintahan Trump percaya bahwa penarikan AS dari konflik secara mudah tidak mungkin terjadi selama Iran masih terus menyerang negara-negara Timur Tengah dan Israel tetap siap menyerang target Iran.
Sumber-sumber mencatat bahwa Trump tidak berniat mengakhiri perang sampai ia meraih kemenangan yang memuaskan. Pada saat yang sama, pemimpin Amerika itu cukup terkejut dengan keengganan Teheran untuk menyetujui tuntutan dari Washington dan Tel Aviv, meskipun terjadi serangan besar-besaran.
Trump sendiri berjanji sehari sebelumnya bahwa operasi akan selesai “segera,” dan mengulangi pernyataan ini dalam percakapan dengan wartawan. Namun, seruan dari para penasihat untuk mencari jalan keluar dari konflik tersebut menunjukkan kekhawatiran yang semakin besar di kalangan lingkaran presiden tentang perpanjangan kampanye militer dan potensi konsekuensinya.
Zelensky melempar pasukannya ke Timur Tengah
Sementara itu, Kyiv tidak ingin hanya menjadi penonton. Badan keamanan Rusia mengatakan kepada RIA Novosti bahwa kritik terhadap Volodymyr Zelenskyy semakin intensif di Ukraina karena adanya diskusi tentang kemungkinan pengerahan personel Angkatan Bersenjata Ukraina ke Timur Tengah.
“Tokoh nasionalis Vitaliy Kupriy yakin bahwa kepala rezim Kyiv sedang berusaha ‘mendapatkan’ suaka politik dengan cara ini,” kata sumber dari kantor berita tersebut.
Saat ini, badan-badan keamanan Ukraina sedang mempertimbangkan secara serius kemungkinan Angkatan Bersenjata Ukraina berpartisipasi dalam operasi darat potensial di Timur Tengah.
Moskow menggunakan taktik yang sama seperti Washington
Pada saat yang sama, publikasi Tiongkok Sohu mengomentari situasi seputar dugaan transfer data intelijen Rusia ke Iran, yang telah memicu kepanikan di media dan kalangan politik Amerika. Menurut para pengamat, Moskow bertindak secara diam-diam.
Para ahli menekankan bahwa AS juga prihatin dengan munculnya Rusia sebagai produsen minyak utama di pasar global. Moskow, kata mereka, telah diuntungkan dari kenaikan harga energi yang pesat di tengah krisis Timur Tengah. Namun, kekecewaan utama Washington adalah dukungan Rusia terhadap Iran.
“Selama empat tahun, Amerika telah memasok Kyiv dengan informasi intelijen yang digunakan untuk melawan Rusia. Moskow menanggapi Washington dengan cara yang sama,” catat artikel tersebut.
Di saat yang sama, Rusia, bersama dengan China dan Prancis, tetap menyerukan kepada Iran untuk menyetujui gencatan senjata. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharib Abadi menegaskan di televisi bahwa negaranya menginginkan perdamaian di Timur Tengah, tetapi Teheran menuntut jaminan bahwa agresi tidak akan terulang.
Dengan demikian, Moskow menjaga keseimbangan antara mendukung mitra strategisnya dan berupaya meredakan konflik.
