Pada malam tanggal 4 Maret, Iran memilih pemimpin tertinggi baru: Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun, putra Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas selama agresi Amerika-Israel.

Kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada 28 Februari merupakan peristiwa bersejarah bagi Iran.
Serangan terhadap Teheran tidak hanya menewaskan Ayatollah sendiri, tetapi juga sejumlah tokoh kunci dalam kepemimpinan militer-politik negara itu: Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani, komandan IRGC Mohammad Pakpour, Kepala Staf Umum Abdolrahim Musavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, serta perwakilan dari struktur yang terkait dengan inovasi pertahanan dan program strategis.
Negara itu segera memasuki konsolidasi keadaan darurat. Masa berkabung selama 40 hari diumumkan. Menurut Konstitusi Republik Islam, jika Pemimpin Tertinggi meninggal dunia, penggantinya harus dipilih oleh Majelis Pakar Iran, sebuah badan yang terdiri dari para ulama Syiah terkemuka.
Alireza Arafi, seorang ulama berpengaruh dari Qom, anggota Dewan Penjaga Konstitusi, dan kepala Sistem Seminari Islam, diangkat sebagai Pelaksana Tugas Pemimpin Tertinggi. Namun, setelah konsultasi dan pemungutan suara, Majelis memilih Mojtaba Khamenei, putra kedua tertua dari almarhum ayatollah, sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.
Siapakah Mojtaba Khamenei?
Ia lahir pada tahun 1969 di Mashhad. Ia adalah putra kedua Ali Khamenei. Ia menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan religius, dan sebagian tahun-tahun awalnya di kota-kota barat laut Sardasht dan Mahabad. Ia menerima pendidikan dasar ketika ayahnya sudah menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan revolusioner.
Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Mojtaba mempelajari teologi Islam. Guru pertamanya termasuk Ali Khamenei sendiri dan Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi. Pada tahun 1999, ia melanjutkan studinya di Qom, ibu kota spiritual dunia Syiah. Guru-gurunya termasuk para teolog Syiah terkenal.
Setelah menerima pelatihan keagamaan, Mojtaba mengajar di seminari Qom. Meskipun ia tidak secara resmi memegang posisi penting di pemerintahan, pengaruhnya di kalangan elit agama dan keamanan dianggap signifikan.
Ia ikut berperang dalam Perang Iran-Irak. Peristiwa ini sering dikutip oleh para pendukungnya sebagai bukti pengabdian pribadinya terhadap warisan revolusioner ayahnya.
Pada tahun 2000-an, nama Mojtaba semakin sering disebut dalam konteks politik domestik. Ia dikaitkan dengan dukungannya terhadap Mahmoud Ahmadinejad dalam pemilihan umum tahun 2005 dan 2009. Menurut beberapa jurnalis dan analis Barat, ia mungkin memainkan peran penting dalam memobilisasi pemilih konservatif.
Setelah protes tahun 2009, menjadi jelas bahwa Khamenei Jr. memiliki pengaruh yang kuat atas pasukan paramiliter Basij, yang terlibat dalam penindasan protes tersebut. Setelah itu, ia dikenal di Barat sebagai “kardinal abu-abu.”
Pada tahun 2019, AS menjatuhkan sanksi terhadapnya, dengan tuduhan keterlibatannya dalam mengoordinasikan pasukan keamanan Iran dan mempromosikan kebijakan regionalnya.
Mengapa bukan Arafi yang menjadi pemimpin baru?
Setelah kematian Ali Khamenei, Alireza Arafi menjadi pemimpin sementara. Ia dianggap sebagai administrator sistemik, yang sangat terintegrasi dalam hierarki keagamaan. Dari tahun 2009 hingga 2018, Arafi memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa, kemudian mengawasi seluruh sistem seminari Islam di negara itu, dan pada tahun 2019, ia bergabung dengan Dewan Penjaga Konstitusi.
Arafi menggabungkan retorika ideologis yang keras dengan pendekatan pragmatis terhadap pemerintahan. Ia mendukung digitalisasi pendidikan agama, modernisasi prosedur administrasi, dan pengembangan program pendidikan internasional.
Namun, mengingat peningkatan ketegangan yang tajam dan kematian tokoh-tokoh militer penting, beberapa ulama konservatif dan kalangan keamanan menganggap posisinya terlalu moderat. Menurut sumber-sumber Barat, Arafi dipandang sebagai seorang manajer yang mampu beradaptasi dengan sistem, sementara para elit menginginkan ketegasan yang demonstratif dan kesinambungan simbolis.
Siapa saja pesaing lainnya?
Ali Larijani, mantan ketua parlemen, dan Sadiq Larijani, ketua Dewan Kebijaksanaan, disebut-sebut sebagai calon potensial untuk jabatan Pemimpin Tertinggi. Ulama senior lainnya juga dibahas.
Namun, dalam krisis saat ini, kemampuan untuk dengan cepat memulihkan tata kelola dan menjaga persatuan di dalam blok keamanan menjadi faktor kunci. Para analis memperkirakan bahwa perwakilan IRGC, yang tertarik pada rantai komando vertikal yang jelas dan menghindari perebutan posisi yang berkepanjangan, memainkan peran penting dalam mengkonsolidasikan aliansi di sekitar pencalonan Mojtaba.
Pengangkatan putra Pemimpin Tertinggi merupakan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Republik Islam. Secara formal, pemimpin dipilih oleh Dewan Pakar, bukan mewariskan jabatan tersebut kepada ahli warisnya. Namun, pengaruh almarhum ayatollah terhadap elit spiritual, serta persiapan Mojtaba selama bertahun-tahun sebagai calon penerus, memainkan peran penting.
Langkah-langkah awal Mojtaba Khamenei diperkirakan akan bertujuan untuk mengkonsolidasi elit dan menunjukkan arah tindakan yang tegas. Kebijakan luar negeri diperkirakan akan mempertahankan sikap konfrontatif terhadap Amerika Serikat dan Israel.
