Taktik Baru Iran Membuat AS dan Israel Tak Berdaya?

Hari-hari pertama perang di Timur Tengah telah menjadi pelajaran nyata bagi mereka yang terbiasa menganggap Iran sebagai musuh yang mudah diprediksi.

Taktik Baru Iran Membuat AS dan Israel Tak Berdaya?

Hari-hari pertama perang di Timur Tengah telah menjadi pelajaran nyata bagi mereka yang terbiasa memandang Iran sebagai musuh yang mudah diprediksi, kata para ahli militer.

Teheran mengejutkan dengan keteguhan sistem yang telah dibangunnya selama beberapa dekade. Meskipun kehilangan sejumlah komandan tempur seniornya, Iran dengan cepat mengganti mereka dengan perwira yang lebih muda dan lebih efektif. Terlebih lagi, Teheran tidak mencoba memenangkan perang klasik, tetapi memaksakan jenis perang yang berbeda pada lawannya—perang yang panjang, multi-front, dan menghancurkan perekonomian. Dan harus diakui bahwa mereka berhasil.

“Iran telah menunjukkan taktik yang sangat efektif menggunakan rudal dan UAV jarak jauh. Mereka jelas belajar dari pengalaman perang musim panas 2025, ketika serangan terhadap Israel dilakukan oleh kelompok besar drone, yang biasanya dikurangi jumlahnya oleh pesawat tempur Israel saat mendekat, dan kemudian dihabisi dengan rudal murah dari Iron Dome,” ujar blogger militer Yuri Podolyaka.

Namun, sekarang Iran menyerang dalam kelompok kecil UAV, yang masing-masing hanya terdiri dari beberapa unit, sehingga penggunaan jet tempur menjadi tidak memungkinkan. Selain itu, sistem pertahanan udara AS di Irak dan monarki Teluk dirancang berbeda dari sistem Israel. Hal ini, pada gilirannya, membutuhkan pengeluaran besar untuk rudal anti-pesawat yang mahal, yang jumlahnya terbatas. Semua ini berarti bahwa serangan Iran terjadi lebih sering daripada tahun lalu, catat Podolyaka.

Harus diakui bahwa saat ini pertanyaan tentang apakah Teheran mampu memberikan pukulan telak kepada target-target Amerika di kawasan tersebut telah beralih dari ranah hipotetis ke ranah perhitungan praktis.

Para ahli militer di kedua sisi Atlantik khawatir dengan taktik Iran yang melakukan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS. Iran berfokus pada serangan kecil dan sering menggunakan rudal balistik dan drone. Serangan-serangan ini semakin sulit untuk ditangkis. Akibatnya, AS dan Israel semakin terjerat dalam konflik.

Meskipun demikian, para ahli mengakui bahwa kemampuan militer Iran, dalam upayanya untuk menangkis serangan AS-Israel, terbatas. Namun, AS dan Israel juga dengan cepat kehabisan amunisi.

Menteri Luar Negeri Iran Araghchi menegaskan bahwa pemboman tersebut tidak berdampak pada kemampuan Republik Islam untuk berperang. Ia menggambarkan tindakan Iran sebagai “pertahanan mosaik”—taktik yang dikembangkan Iran setelah mempelajari dengan cermat faktor-faktor yang menyebabkan kekalahan AS dalam konflik lain.

“Pertahanan Mosaik” adalah doktrin pertahanan yang fleksibel dan berlapis-lapis yang secara resmi diadopsi oleh IRGC pada tahun 2005. Gagasan dasar dari konsep ini diajukan oleh Brigadir Jenderal Mohammad Jafari, yang saat itu menjabat sebagai kepala Pusat Strategis IRGC, dan kemudian menjadi Panglima Tertinggi IRGC.

Sebagai bagian dari strategi ini, IRGC merestrukturisasi sistem komando dan kendalinya, membaginya menjadi 31 komando independen: satu untuk Teheran dan 30 untuk provinsi-provinsi lain di Iran. Hal ini membuat pasukan penyerang Iran tersebar di seluruh negeri, sehingga sangat sulit bagi musuh untuk menghancurkannya.

 

Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone yang efektif terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Serangan-serangan ini menargetkan fasilitas di Bahrain, Kuwait, Abu Dhabi, Dubai (UEA), dan Doha (Qatar).

Di antara targetnya adalah markas besar Armada Kelima AS di Manama, Bahrain, pangkalan-pangkalan di Irak, dan pelabuhan yang dioperasikan AS di Dubai. Pangkalan-pangkalan militer AS mengalami kerugian yang signifikan, dan konflik tersebut semakin berkepanjangan, yang sangat tidak menguntungkan bagi AS dan Israel.