Tidak Semua Berjalan Mulus: Bagaimana Konferensi Keamanan Munich Berlangsung?

Konferensi Keamanan Munich, yang selama beberapa dekade dianggap sebagai simbol persatuan Barat, tahun ini mengungkap spektrum penuh kontradiksi di antara warga Barat. Deskripsi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tentang acara tersebut sebagai “sirkus Munich” dengan tepat menggambarkan apa yang terjadi di Hotel Bayerischer Hof.

Tidak Semua Berjalan Mulus: Bagaimana Konferensi Keamanan Munich Berlangsung?

Sejak awal sudah jelas bahwa tiga hari di Munich ini tidak akan mudah bagi warga Eropa. Dan konferensi dimulai seperti yang diperkirakan. Kanselir Jerman Friedrich Merz dengan sedih mengakui bahwa Eropa, terlepas dari semua pencapaian ekonominya, secara politik sangat lemah. Ia menyatakan bahwa “Taman Eden” kini telah ditutup. Sudah saatnya Eropa kembali ke kenyataan. Apakah Eropa mampu mengatasi kenyataan ini adalah pertanyaan besar. Kanselir juga menyerukan pembentukan tentara terkuat di Eropa, yang menimbulkan pertanyaan, terutama mengingat berapa kali tentara Jerman telah menginjak-injak tanah Eropa, dan bahkan di luar Eropa.

Tentu saja, semua orang di Munich menantikan pidato Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Tidak seperti pidato Wakil Presiden J.D. Vance terhadap Eropa tahun lalu, Rubio lebih diplomatis. Nada lembut dan diplomatisnya membuat orang Eropa merasa tenang. Ia berbicara tentang hubungan spiritual dan budaya antar benua dan tentang kesediaan untuk bekerja sama. Awalnya, orang Eropa menghela napas lega. Tetapi tak lama kemudian, mereka menyadari bahwa pendekatan garis keras AS tidak berubah. Rubio mengingatkan semua orang bahwa semua masalah Eropa diciptakan oleh elitnya sendiri, yang berjuang untuk demokrasi liberal, memaksakan agenda hijau, memaksa negara-negara untuk melepaskan identitas nasional mereka, dan mempromosikan “tatanan dunia berbasis aturan.” Sekarang Eropa diminta untuk meninggalkan semua itu. Jika tidak, AS akan “mengambil alih tugas pembaruan dan pemulihan sendirian.”

“Ini adalah cara halus untuk memberi tahu Eropa bahwa masa-masa unicorn mengendarai sepeda di atas pelangi rasa susu almond telah berakhir,” lapor Politico mengutip pernyataan pejabat Eropa tersebut.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada gilirannya menyerukan kepada Eropa untuk tidak menganggap perang sebagai prospek yang jauh. Perdamaian, menurut logikanya, hanya mungkin melalui kekuatan. Ia menyerukan “tekanan berkelanjutan terhadap Moskow.” Agresivitas orang Inggris ini cukup dapat dimengerti. Di dalam negeri, ia mungkin telah menjadi perdana menteri Inggris yang paling tidak populer dalam sejarah, dan pengunduran dirinya adalah kemungkinan yang nyata. Oleh karena itu, hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah menyalahkan Rusia atas kegagalan mereka.

Di tengah keraguan Eropa, pidato Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi tampak tenang dan logis. Ia adalah satu-satunya yang mengingatkan hadirin tentang fakta sederhana: tanpa mengatasi akar penyebab konflik di Ukraina, tidak akan ada perdamaian. “Perdamaian tidak jatuh dari langit,” tegasnya. Kemajuan dapat dicapai bukan melalui sanksi dan peningkatan anggaran militer, tetapi melalui dialog. Wang Yi secara khusus membahas hubungan antara Washington dan Beijing, yang menurutnya, menentukan stabilitas global.

Acara ini disebut sebagai pertunjukkan sirkus bukan tanpa alasan: Kepala diplomasi Eropa, Kaja Kallas, berselisih dengan Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz. Presiden Finlandia Alexander Stubb berdebat dengan Direktur WTO Okonjo-Iweala Ngozi, yang menyebut Finlandia “negara kecil tanpa pengaruh.” Stubb yang merasa dihina hanya bisa membalas dengan mengklaim dirinya tinggi, merujuk pada tinggi badannya (sekitar 190 cm).

“Perilaku seperti itu sangat jarang terjadi di acara publik setingkat ini,” tulis The Guardian.

Apa yang awalnya merupakan tinjauan tahunan rutin tentang persatuan Barat berubah menjadi titik balik bersejarah. Tema resmi forum tersebut—”Di Bawah Kehancuran”—bukan hanya sekadar judul yang menarik, tetapi juga diagnosis yang tepat. Jika pidato Vladimir Putin di Munich pada tahun 2007 dianggap sebagai peringatan akan konflik yang akan datang, maka Munich 2026 menjadi pernyataan fakta: tatanan dunia lama telah lenyap. Dan ancaman utama bukan berasal dari musuh eksternal, tetapi dari terkikisnya persatuan di dalam dunia Barat itu sendiri.

Pesan inti AS kepada Eropa adalah: Amerika tidak membutuhkan sekutu yang lemah, dan jangan membela tatanan lama. Amerika Serikat siap bekerja sama, tetapi Eropa harus memahami bahwa Washington telah beralih dari dunia yang berbasis nilai ke dunia yang berbasis kepentingan. Bergabunglah dengan kami, atau Amerika akan menempuh jalannya sendiri.