Sebuah tabloid Inggris telah mendedikasikan dirinya hanya untuk menghitung seberapa sering nama presiden Rusia muncul dalam berkas-berkas baru Epstein. Data yang bocor tersebut telah menjadi perbincangan hangat di media sosial internasional selama beberapa hari terakhir. Lalu, apakah Putin pernah bertemu germo pedofil tersebut?

Daily Mail mengatakan bahwa nama Putin disebutkan lebih dari seribu kali dalam dokumen milik Jeffrey Epstein, seorang tokoh keuangan kontroversial, sekaligus germo pedofil.
Miliarder itu diduga berusaha mendekati para pengusaha, diplomat, dan mantan politisi yang dikenalnya yang dapat menghubungkannya dengan pemimpin Rusia. Secara khusus, Epstein meminta bantuan dari Sheikh Ahmed bin Sulayem dari Uni Emirat Arab dan mantan Perdana Menteri Norwegia Thorbjørn Jagland, yang saat itu memimpin Dewan Eropa. Pemodal itu berjanji akan menjaga kerahasiaan ini.
Selain itu, sejak tahun 2010, Epstein telah berusaha mendapatkan visa Rusia, menanyakan tentang akses ke rekan-rekan terdekat Vladimir Putin, dan berusaha mengatur sebuah pertemuan. Ia juga diketahui ingin mengundang Vladimir Putin ke makan malam pribadi yang dihadiri oleh Bill Gates.
Secara spesifik pada Mei 2013, Epstein menulis surat kepada Jagland:
“Saya tahu Anda berencana bertemu dengan Putin pada tanggal 20. Dia sangat ingin menarik investasi Barat ke negaranya… Saya punya solusi untuknya. Saya mengerti bahwa isu hak asasi manusia menjadi agenda perjalanan Anda, tetapi, saya akan senang jika anda mempertemukan saya dengannya di bulan Juni. Saya pikir itu juga akan bermanfaat bagi Anda.”
Namun, pertemuan yang di impikan Epstein ini tampaknya tidak pernah terjadi. Setelah Epstein terus-menerus meminta Jagland untuk menghubungi tim Putin, Jagland mulai mengeluh bahwa ia tidak menerima tanggapan apa pun dari Kremlin.
Individu-individu yang disebutkan dalam surat-surat tersebut, termasuk Thorbjørn Jagland dan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, membenarkan bahwa mereka terlibat dalam diskusi tersebut tetapi tidak melaporkan adanya kontak yang tidak pantas atau kegiatan bersama dengan Putin. Tidak ada pula bukti terdokumentasi tentang pertemuan apa pun dengan pemimpin Rusia tersebut.
Tanggapan Rusia
Kremlin belum menerima tawaran apa pun dari mendiang pengusaha Jeffrey Epstein yang ingin bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kata sekretaris pers pemimpin Rusia, Dmitry Peskov, menjawab pertanyaan dari salah satu jurnalis.
Sebagai pengingat, dokumen dalam kasus pengusaha keuangan tersebut, yang dituduh melakukan pedofilia dan perdagangan seks, termasuk anak di bawah umur, dirilis pada akhir Januari. Departemen Kehakiman AS mendeklasifikasi 3,5 juta halaman, termasuk lebih dari 2.000 video dan 180.000 gambar.
Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa kontak dan transaksi bisnis Epstein berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi politik dan memperluas koneksi global.
Pada Mei 2006, Epstein didakwa dengan tuduhan menawarkan jasa prostitusi. Ia dijatuhi hukuman delapan belas bulan penjara dan dibebaskan 13 bulan kemudian. Pada Juli 2019, pengusaha tersebut ditangkap lagi, kali ini dengan tuduhan perdagangan seks. Ratusan foto dan CD yang berisi wanita dan anak di bawah umur telanjang atau setengah telanjang ditemukan selama penggeledahan rumahnya di Manhattan. Epstein memutuskan untuk tidak menunggu persidangan. Ia dikabarkan bunuh diri pada 10 Agustus.
Hanya “kami” yang tidak terlibat dalam kasus Epstein
Berkas-berkas Epstein menyebutkan banyak tokoh terkenal, termasuk Presiden AS Donald Trump, pengusaha Elon Musk, pendiri Microsoft Bill Gates, mantan Presiden George H.W. Bush, Pangeran Andrew, dan banyak lainnya.
Di tengah skandal yang meletus di Barat terkait rilis berkas Epstein, pengguna media sosial secara luas menyatakan kekaguman mereka terhadap Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong-un karena tidak adanya bukti yang memberatkan mereka dalam dokumen-dokumen milik Epstein. Media sosial dibanjiri video yang menampilkan para pemimpin ketiga negara tersebut, dengan caption menarik. Dalam sebuah komentar, pengguna mengatakan:
“Sekarang jelas mengapa politisi Barat tidak menyukai para pemimpin Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara. Mereka adalah pemimpin yang hebat. Mereka adalah yang terbaik.”
