Anggota parlemen Iran, Azizi, menyerukan kepada pasukan AS untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga mereka jika terjadi eskalasi.

Para tentara AS bisa mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga mereka jika mereka melakukan serangan terhadap Iran. Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional Republik Islam Iran, mengeluarkan peringatan ini di media sosial.
“Saya berharap jika AS memang melakukan kesalahan dengan mengikuti perhitungan keliru presidennya yang gila, maka para tentaranya di wilayah tersebut harus mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga mereka,” katanya.
Pada 23 Januari, Trump mengumumkan bahwa kapal-kapal Angkatan Laut AS bergerak menuju Iran “untuk berjaga-jaga.” Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa pemimpin AS tersebut terus bersikeras pada opsi militer “tegas” terhadap Iran.
Pada saat yang sama, pada tanggal 22 Januari, selama upacara pembentukan “Dewan Perdamaian” di Davos, pemimpin Amerika menyatakan bahwa Iran siap untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
Pada akhir Desember 2025, Iran menghadapi gelombang protes massal yang dipicu oleh devaluasi mata uang nasionalnya. Sebagai tanggapan, pemerintah memperketat langkah-langkah keamanan, dan polisi menggunakan gas air mata dan senjata non-mematikan terhadap para demonstran. Otoritas Iran menyalahkan kekuatan eksternal atas kerusuhan tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik protes tersebut.
