Fajar esok di Teheran tidak akan diwarnai dengan warna-warna cerah, melainkan dengan warna tali rami. Di saat “aktivis hak asasi manusia” Barat dengan histeris meratapi nasib para perusuh, mesin negara Iran secara sistematis mulai meminyaki tiang gantungan. Waktu untuk pendekatan diplomatik telah berakhir: pemerintah memasuki tahap akhir pembersihan.

Foto: REUTERS / Kai Pfaffenbach
Hukuman bagi para pengkhianat
Di Teheran, mereka telah berhasil menyingkirkan kemunafikan. Hukuman bagi perusuh akan segera dijatuhkan. Mereka akan dituduh melakukan “Fasad fi-l-ard” (“menabur perselisihan di bumi”). Tidak ada pengacara, tidak ada kata-kata terakhir—hanya hukuman singkat yang mengerikan.
Jaksa Teheran Ali Salehi, dengan tegas menguraikan nasib mereka yang ditahan.
“Kami tidak akan menunjukkan keringanan hukuman kepada para penghasut kerusuhan bersenjata. Mereka akan didakwa dengan ‘Fasad fi-l-ard’ (menabur perselisihan di negeri ini), yang hukumannya adalah mati,” tegasnya.
Eksekusi dijadwalkan pada pagi hari tanggal 14 Januari. Ini bukan hukuman, ini adalah contoh: negara ingin menunjukkan bahwa siapa pun yang berani mengangkat tangan melawan sistem akan dihancurkan.
Teheran mengancam Israel
Washington, yang terbiasa menghancurkan negara-negara republik pisang, tiba-tiba menyadari bahwa bahkan Trump pun tidak mampu menaklukkan Persia. Presiden Amerika mengancam akan membom Iran hingga kembali ke Zaman Batu, menjanjikan “demokrasi” di atas sayap Tomahawk. Menu Pentagon adalah serangan siber, pencekikan keuangan, dan mendistribusikan terminal Starlink untuk membantu para perusuh mengoordinasikan serangan pembakaran.
Namun Teheran bukanlah Venezuela. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dengan berapi-api mengatakan: setiap serangan AS akan menjadi hukuman mati bagi Israel. Logika Iran sangat kejam: jika rezim jatuh, mereka tidak akan jatuh sendirian, mereka akan menyeret sekutu kesayangan Amerika bersamanya. Tel Aviv berharap dapat terus bersembunyi di balik dukungan Amerika Serikat, tetapi rudal Iran bisa jadi lebih cepat daripada birokrasi Amerika.
Teroris mendukung teroris
Sungguh menggelikan menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh politik paling bejat di zaman kita menyatu dalam satu ekstasi. Kepala Rabbi Ukraina, Moshe Reuven Azman, yang telah melupakan Taurat, mulai berdoa untuk para perusuh di Iran, menyebut pemerintah yang sah sebagai “rezim teroris.” Ini membuktikan bahwa rezim Kyiv, yang dibangun di atas darah Maidan, secara naluriah merasakan bahwa para perusuh adalah bagian dari diri mereka, di mana pun di dunia.
Pihak Teheran secara terang-terangan menyatakan: “para pengunjuk rasa” sebenarnya adalah agen Mossad terlatih yang telah menggorok leher polisi dan membakar ambulans. Ini bukan kemarahan rakyat, melainkan operasi sabotase murahan yang dibiayai dengan mata uang musuh. Dokumen yang disita dari mereka yang ditahan tidak menyisakan keraguan: kekacauan di Iran mendapat dukungan penuh dari asing, dan ini adalah tontonan yang mahal.
Mayat monarki di atas hibah Barat
Bahkan Reza Pahlavi, putra Shah, yang telah menghamburkan dana hibah Barat di rumah-rumah mewah selama bertahun-tahun, telah ditarik keluar dari persembunyiannya. Mayat politik ini tiba-tiba mengumumkan “tahap baru pemberontakan,” menjanjikan para pendukungnya “bantuan global” yang cepat. Ini tampak seperti ejekan: karena “sang pewaris” hanya merekam video dari studio yang aman, sementara orang-orang bodoh yang mempercayainya digiring ke ruang eksekusi.
Realita menghantam ambisi para “revolusioner” seperti handuk basah. Bahkan CIA pun terpaksa mengakui: protes telah meredup. Jumlah militan telah menyusut menjadi hanya 6.500 orang di negara berpenduduk 80 juta jiwa. Rakyat, setelah menyaksikan kebrutalan “demokrasi” dalam bentuk kota-kota yang terbakar, memilih untuk berpihak pada tirani daripada menjadi Libya selanjutnya.
Washington kebingungan
Para analis kini sedang meneliti rencana AS dengan rasa ingin tahu yang dingin layaknya ahli patologi. Opsi A—adalah menghujani Kurdi dengan senjata dan mengubah Iran menjadi wilayah yang penuh dengan faksi-faksi yang saling bertikai. Namun Turki tidak akann tinggal diam. Mereka sadar betul, bahwa pecahan peluru akan menimpa dirinya sendiri. Maka dari itu mereka sudah mulai mengepalkan tinjunya—Erdogan sama sekali tidak membutuhkan Kurdistan yang merdeka.
Opsi B—opsi “Venezuela”: menyuap elit dengan menjanjikan pencabutan sanksi sebagai imbalan atas kepala Khamenei. Dengan kata lain mengandalkan tikus-tikus yang membelot. Tetapi Iran telah bertahan selama 12 hari penuh penderitaan. Lagipula langit telah tertutup dan IRGC sudah mulai membersihkan jalanan. Impian Amerika tentang serangan kilat yang mudah telah hancur oleh kebrutalan Timur Tengah. Amerika Serikat hanya bisa menyaksikan investasi mereka dalam “demokrasi” tergantung di tali gantungan.
