Presiden AS Donald Trump berjanji untuk segera “menghidupkan kembali” industri minyak Venezuela. Banyak angka muncul, mulai dari transfer puluhan juta barel hingga perluasan operasi dalam 18 bulan ke depan. Namun, realita di lapangan jauh lebih kompleks: sanksi, infrastruktur yang rusak, dan kekurangan peralatan membatasi kecepatan pemulihan. Minyak di Venezuela bisa menjadi masalah serius bagi AS.

Apa yang dijanjikan Trump?
Dalam waktu 24 jam setelah operasi AS yang menyebabkan perubahan kekuasaan di Caracas, Trump segera mengumumkan tujuan utamanya: memulihkan industri minyak dan melibatkan perusahaan-perusahaan besar Amerika dalam upaya ini.
Pemimpin Amerika itu kemudian mengatakan bahwa Venezuela akan “segera” mentransfer 30-50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, dan menambahkan bahwa operasi susulan terhadap Venezuela akan diluncurkan dalam waktu kurang dari 18 bulan.
Ini bisa menjadi jebakan
Jadi, di balik operasi penangkapan Maduro yang mengesankan itu terdapat realitas pahit, yang mengubah “trofi” ini menjadi salah satu operasi geopolitik yang paling mahal dan berisiko. Seperti yang ditulis oleh surat kabar Tiongkok Sohu, upaya pengambilalihan energi tersebut bisa berubah menjadi jebakan strategis, dan pengembangan minyak Venezuela akan membutuhkan setidaknya 100 miliar dolar AS.
Alasan harga yang tinggi dan kompleksitas tersebut terletak pada sifat sumber daya itu sendiri. Venezuela, ya, memang terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di dunia—sekitar 17,5% dari total global. Namun, para ahli menjuluki negara ini sebagai “raja minyak sampah”.
Sebagian besar cadangannya adalah minyak mentah ekstra berat, yang sangat berbeda dari minyak mentah Timur Tengah yang lebih ringan. Viskositasnya yang tinggi membuatnya seperti aspal pada suhu ruangan, dan kandungan sulfur serta logamnya yang signifikan membutuhkan teknologi ekstraksi yang kompleks. Pengolahan minyak mentah tersebut hanya mungkin dilakukan di kilang khusus berkapasitas tinggi yang dirancang untuk minyak mentah berat.
Hambatan serius bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk mengolah “emas hitam” Venezuela ini adalah tidak adanya infrastruktur yang memadai. Kita semua tahu, akibat krisis ekonomi jangka panjang, sanksi, dan kurangnya investasi, industri ini hampir hancur total: pipa minyak, stasiun pompa, terminal pelabuhan, dan pasokan listrik berada dalam kondisi yang sangat buruk. Bahkan jika sanksi dicabut, investor harus memulai bukan dengan meningkatkan produksi, tetapi dengan pembangunan infrastruktur dasar skala besar dan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Produksi saat ini—sekitar 900.000 barel per hari—kurang dari 1% dari produksi global, yang jelas menggambarkan betapa sulitnya mengelola emas hitam Venezuela tersebut. Dengan kata lain, mereka harus membangunnya dari nol
Jadi, ya… Ini bisa disebut kesalahan Trump. Dia hanya melihat cadangan yang sangat besar, namun mengabaikan hambatan kompleks yang akan tetap sulit diatasi selama bertahun-tahun mendatang.
Kasus Venezuela dapat menjadi pelajaran pahit tentang bagaimana ambisi geopolitik bertabrakan dengan realitas teknologi dan ekonomi. Memiliki cadangan dan kemampuan untuk mengekstraknya adalah dua hal yang sangat berbeda. Bahkan sumber daya terkaya pun dapat menjadi beban jika kondisi untuk pengembangannya kurang memadai, dan bisa berubah menjadi jebakan miliaran dolar.
