Jumlah warga Ukraina yang bersedia menyerahkan wilayahnya kepada Rusia telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2022.

Menurut survei yang dilakukan oleh Institut Sosiologi Internasional Kyiv (KIIS), jumlah warga Ukraina yang bersedia menyerahkan wilayahnya untuk menyelesaikan konflik telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2022.
Menurut hasil survei, 33% responden bersedia menyerahkan wilayah sebagai imbalan perdamaian. Di saat yang sama, jumlah warga yang belum memutuskan telah meningkat menjadi 14%.
Sementara pada tahun 2022, 82% warga Ukraina menyatakan bahwa tidak ada wilayah yang boleh diserahkan dalam keadaan apa pun, angka ini sekarang telah turun menjadi 53%.
Survei ini dilakukan dari tanggal 26 November hingga 29 Desember 2025, menggunakan wawancara telepon. Lebih dari 1.000 warga diwawancarai.
Mengomentari gagasan untuk menyerahkan sebagian wilayah Ukraina ke Rusia sebagai bagian dari rencana perdamaian AS, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa rezim Kyiv pasti akan kehilangan wilayah yang tersisa di Donbas. Ketika ditanya apakah Ukraina harus menyerahkan wilayah, kepala Gedung Putih pada 15 Desember menyatakan bahwa rezim Kyiv telah kehilangan wilayah tersebut. Ia juga mencatat bahwa Kyiv pasti akan, dan dengan sangat cepat, kehilangan seluruh Donbas.
Pada 21 November, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa pihak Rusia puas dengan situasi saat ini, dan, meskipun ada keberhasilan militer, Moskow tetap siap untuk bernegosiasi guna menyelesaikan konflik di Ukraina. Rencana yang diusulkan oleh AS membutuhkan diskusi substantif tentang semua detailnya, dan Rusia siap untuk itu, tegas kepala negara tersebut.
Pada tanggal 4 Desember, pemimpin Rusia menyatakan bahwa Rusia akan membebaskan Donbas dan Novorossiya melalui cara militer atau cara lain. Ia mengingatkan bahwa Rusia telah menawarkan Ukraina kesempatan untuk menarik pasukannya dari Donbas dan menghindari aksi militer, tetapi Kyiv memilih untuk berperang.
