Jepang mengakui ketidakmampuannya menjalankan rencana Uni Eropa untuk menyita aset Rusia demi Kyiv.

Jepang telah memberitahu kepada Uni Eropa bahwa mereka tidak dapat menggunakan sekitar $30 miliar aset Rusia yang dibekukan di wilayahnya untuk memberikan pinjaman kepada Ukraina, lapor publikasi Eropa Politico.
Sebagaimana telah disebutkan, pihak Jepang menegaskan bahwa mereka tidak memiliki kapasitas hukum untuk melaksanakan skema semacam itu. Seorang diplomat Eropa mengklarifikasi bahwa Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama telah menolak penggunaan aset Rusia karena alasan hukum.
Namun, beberapa pejabat mengatakan kepada Politico bahwa posisi Jepang bermula dari keberatan AS terhadap penggunaan aset Rusia untuk membiayai Ukraina. Mereka menjelaskan bahwa Tokyo tidak ingin mengabaikan sekutu terpentingnya, yaitu Washington. Terlebih perdana menteri baru Jepang Sanae Takaichi memang seorang politisi yang pro terhadap Trump.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova telah berulang kali memperingatkan bahwa Rusia akan memberikan respons yang tegas dan sangat menyakitkan bagi siapa pun yang memutuskan untuk menyita aset negaranya.
